Ilustrasi. Foto: Finance.biggo.com
Bursa Saham Eropa Bervariasi, Investor Pantau Sanksi AS-Iran
Husen Miftahudin • 25 August 2026 10:25
Frankfurt: Bursa saham Eropa ditutup beragam pada perdagangan Senin waktu setempat, bertahan di level terendah dalam tiga pekan. Investor mencermati meningkatnya ketegangan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta menunggu pengumuman sanksi baru Washington terhadap Teheran.
Mengutip Investing.com, Selasa, 25 Agustus 2026, indeks Stoxx Europe 600 ditutup relatif stabil, naik 0,01 persen menjadi 654,22. Indeks DAX Jerman turun 0,1 persen, sedangkan CAC 40 Prancis melemah 0,4 persen.
Sebaliknya, FTSE 100 Inggris menguat 0,3 persen dan menjadi salah satu indeks utama Eropa yang berakhir di zona positif.
Iran ancam balas sanksi AS
Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan akan memberikan respons keras terhadap sanksi baru AS, termasuk mengambil tindakan terhadap negara yang dianggap bekerja sama dengan Washington.
"Setiap peningkatan situasi ini pasti akan menimbulkan konsekuensi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.
Baghaei juga menilai dampak sanksi AS berpotensi terbatas. Ia merujuk pada sejumlah kampanye tekanan ekonomi sebelumnya yang dinilai belum berhasil mencapai tujuan Washington.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan mengumumkan langkah-langkah baru terhadap Iran dalam konferensi pers pada Senin. Bessent menggambarkan kebijakan tersebut sebagai serangan finansial besar terhadap Iran.
Washington juga mendesak negara-negara yang memiliki hubungan dengan Iran untuk mengurangi atau menghentikan hubungan ekonomi dengan Teheran.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Negosiasi Selat Hormuz berlanjut
Di tengah meningkatnya ketegangan, Oman dan Iran dijadwalkan melanjutkan pembicaraan pada Selasa mengenai pengelolaan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pembahasan mencakup kemungkinan penerapan sistem biaya transit baru setelah kedua pihak menjalani negosiasi selama beberapa pekan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya mengatakan masih memandang nota kesepahaman Juni dengan AS sebagai salah satu jalan keluar dari konflik.
Namun, tenggat waktu negosiasi selama 60 hari telah berakhir tanpa kesepakatan. Perselisihan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz juga masih belum menemukan titik temu.
Sementara, harga minyak mentah Brent turun sekitar 1,5 persen menjadi USD91,27 per barel pada perdagangan Senin. Penurunan tersebut memberikan sedikit kelegaan setelah harga minyak melonjak sekitar 5 persen pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, aktivitas transit melalui Selat Hormuz masih terbatas. Kondisi tersebut membatasi aliran minyak mentah dan gas alam cair (LNG) melalui jalur pelayaran strategis tersebut.
Gangguan terhadap jalur distribusi energi itu tetap menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi pasokan dan tekanan inflasi global.