5 Tradisi Unik di Indonesia untuk Memperingati Maulid Nabi

Festival Endhog-Endhogan di Banyuwangi. Foto: banyuwangikab.go.id

5 Tradisi Unik di Indonesia untuk Memperingati Maulid Nabi

Muhamad Marup • 20 August 2026 10:05

Bulan maulid merupakan bulan yang agung karena merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad saw.. Bulan ini diperingati oleh seluruh umat muslim di dunia dengan cara yang berbeda-beda.

Umumnya, perayaan maulid di Indonesia dilakukan dengan mengikuti tradisi warga setempat. Indonesia yang memiliki beragam budaya tentunya memiliki banyak cara untuk memperingati Maulid Nabi.

Dalam pelaksanaan tradisi maulid, terjadi percampuran unsur budaya ke dalam agama yang tentunya memiliki makna tersendiri. Meskipun perayaan Maulid Nabi begitu beragam, namun tujuannya tetap sama, yaitu untuk memperingati dan memanjatkan puja dan puji syukur untuk Nabi Muhammad saw.. Berikut adalah tradisi maulid di beberapa Wilayah di Indonesia

Tradisi Endhog-Endhogan — Banyuwangi

Tradisi maulid ini dilakukan oleh Suku Osing dan warga etnis lainnya di Banyuwangi. Tradisi bernama endhog-endhogan diambil dari kata endhog dalam bahasa Jawa yang berarti telur. 

Endhog-endhogan adalah tradisi menancapkan telur yang telah dihias sedemikian rupa ke batang pisang yang juga telah dihias. Batang pisang ini kemudian diarak keliling kampung lalu telur tersebut dibagikan kepada para warga.

Penggunaan telur dalam tradisi ini memiliki beragam makna. Telur yang terdiri dari tiga lapisan, yaitu kulit, putih telur, dan kuning telur melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. 

Pemaknaan telur ini diambil dari perkataan Syaikhona Kholil yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi endhog-endhogan. Dia berkata bahwa kulit telur adalah sebuah perkumpulan sedangkan isinya adalah sebuah pengalaman. Kulit tanpa isi menjadi kosong sedangkan isi tanpa kulit akan menjadi berantakan

Disisi lain, pemaknaan batang pisang yang disebut jodhag oleh masyarakat memiliki makna pantang menyerah seperti pohon pisang yang akan selalu tumbuh meski dipotong berkali-kali. 

Tradisi Mulud Care — Lombok

Tradisi Maulid di Lombok merupakan tradisi yang diadakan besar-besaran dan dianggap mengalahkan perayaan hari raya Idul Fitri. Tradisi ini tidak hanya untuk memperingati kelahiran nabi, namun juga untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Masyarakat lombok melakukan maulid selama satu bulan dari 12 Rabiul Awal hingga 12 Rabiul Akhir. Tradisi Mulud Care adalah tradisi yang mengutamakan kebersamaan tanpa membedakan suku, bangsa, dan agama.

Di bulan Maulid, setiap rumah menyiapkan hidangan yang enak untuk disantap bersama sanak dan saudara. Di penghujung acara tradisi akan ditutup dengan acara roah maulud atau makan bersama. Semua sanak saudara, tetangga, fakir miskin, dan yatim datang berkumpul untuk makan bersama di masjid.

Bagi masyarakat Lombok, tradisi ini tidak hanya sekadar menunjukkan rasa cinta terhadap Rasulullah. Tradisi ini juga bertujuan mempererat tali silaturahmi dengan sesama manusia.

Tradisi Bungo Lado — Padang Pariaman


Tadisi Bungo Lado di Padang Pariaman. Foto: Media Indonesia


Bungo Lado secara harfiah berarti bunga cabai. Namun, dalam perayaan tradisi Maulid Nabi, bungo lado merupakan sebuah pohon hias berdaun uang.

Masyarakat setempat akan mengumpulkan uang secara sukarela tanpa memedulikan nominalnya. Sumbangan dari masyarakat ini kemudian dirangkai menjadi bungo lado.

Bungo lado yang sudah dirangkai sedemikian rupa kemudian diarak keliling kampung oleh kepala mudo (kepala pemimpin) dan warga setempat lalu diletakkan di masjid. Tradisi ini menggambarkan sikap murah hati dan juga gotong royong.

Tradisi Cokaiba — Halmahera Tengah

Tradisi Cokaiba merupakan tradisi yang berasal dari masyarakat Patani, Weda di Halmahera Tengah Maluku Utara. Cokaiba memiliki arti topeng setan. 

Meskipun penamaan tradisi ini memiliki stigma menyeramkan, namun makna dibalik tradisi ini justru sebaliknya. Tradisi ini melibatkan beberapa masyarakat melakukan pentas tari sembari mengenakan topeng setan dengan berbahagia.

Tarian tersebut memiliki makna bahwa seluruh makhluk hidup turut bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad saw., bahkan setan sekalipun. Tidak hanya berfokus pada topeng, tradisi ini juga disertai oleh zikir dan selawat semalam suntuk.

Baayun Maulid — Kalimantan Selatan

Tradisi ini berasal dari desa Banua Halat, Tapin, Kalimantan Selatan. Tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal masyarakat setempat akan berkumpul di masjid keramat Al Mukarramah untuk mengikuti Baayun Maulid.  Tradisi ini dulunya merupakan sebuah ritual syukuran atas kelahiran bayi yang disebut berpalas bidan. Masuknya pengaruh Islam ke masyarakat Kalimantan membuat tradisi ini kemudian diadaptasi menjadi kegiatan mengayunkan bayi sambil melantunkan syair Al-Barzanji atau selawat nabi.

Tradisi ini menjadi sebuah simbol kasih sayang, keselamatan dan harapan untuk sang bayi agar kelahirannya membawa rahmat layaknya kelahiran Nabi Muhammad di muka bumi.

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia yang beragam menjadi bukti bahwa budaya dan agama bisa hidup berdampingan. Meski cara perayaannya berbeda, namun semua tradisi ini bertemu di satu titik tuju, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan menjadikan nabi Muhammad sebagai suri tauladan. Demikian tradisi unik Maulid Nabi di Indonesia

(Muhamad Marup)