Iran Tantang Kebijakan Ekonomi Trump, Sebut Sanksi AS Akan Berakhir Gagal

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Anadolu Agency)

Iran Tantang Kebijakan Ekonomi Trump, Sebut Sanksi AS Akan Berakhir Gagal

Willy Haryono • 22 August 2026 09:18

Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai ancaman sanksi ekonomi terbaru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Teheran akan gagal seperti sejumlah kebijakan tekanan ekonomi AS sebelumnya.

"14 tahun lalu: 'sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah.' Gagal. Delapan tahun lalu: 'tekanan maksimum.' Gagal," tulis Araghchi melalui platform media sosial X, Jumat, 21 Agustus 2026.

Araghchi juga mengatakan seruan AS agar Iran menyerah tanpa syarat yang disampaikan sekitar lima bulan lalu turut mengalami kegagalan.

"Operasi ekonomi paling menghancurkan yang baru diumumkan Presiden Trump juga pasti akan gagal," ujarnya, seperti dilansir dari Anadolu Agency.

Dalam unggahannya, Araghchi menyertakan gambar mantan Presiden AS Barack Obama yang memuat pernyataan Wakil Presiden AS saat itu, Joe Biden, pada 2012. Biden ketika itu menyebut sanksi terhadap Iran sebagai "sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah sanksi".

Pernyataan Araghchi merespons pengumuman Trump pada Rabu lalu mengenai rencana meluncurkan apa yang disebutnya sebagai "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun."

Trump mengatakan kampanye tekanan maksimum terhadap Iran akan dilakukan melalui "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Trump berjanji memutus saluran keuangan yang mendukung Teheran. Ia juga memperingatkan negara-negara yang memberikan "jalur kehidupan ekonomi" kepada Iran, baik melalui lembaga keuangan, perusahaan, bandara maupun entitas pemerintah, akan menghadapi konsekuensi ekonomi berat.

Trump menyebut kampanye tersebut sebagai "Economic D-Day" dan menyerukan sekutu-sekutu AS untuk bergabung dalam upaya terbaru Washington menekan perekonomian Iran.

Baca juga:  Trump Sebut Iran Belum Siap Buat Kesepakatan, AS Perketat Tekanan Ekonomi

(Willy Haryono)