Iran Tunda Upacara Perpisahan Ayatollah Ali Khamenei di Tengah Ancaman israel

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto: EFE

Iran Tunda Upacara Perpisahan Ayatollah Ali Khamenei di Tengah Ancaman israel

Fajar Nugraha • 5 March 2026 09:31

Teheran: Upacara untuk memperingati mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran telah ditunda.

Penundaan dilakukan beberapa hari setelah ia dibunuh bersama anggota keluarganya dalam serangan udara gabungan oleh Israel dan Amerika Serikat.

Kantor berita Tasnim mengutip seorang pejabat yang menyebutkan masalah logistik sebagai penyebab penundaan, termasuk permintaan dari orang-orang di berbagai provinsi untuk menghadiri upacara tersebut.


Persiapan pemakaman sedang berlangsung dan diperkirakan akan menarik banyak orang, dan, dengan itu, potensi ancaman serangan AS-Israel terhadap pertemuan duka cita massal. Sekitar 10 juta orang menghadiri pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989.

Laporan ini muncul beberapa jam setelah Hojjatoleslam Mahmoudi, kepala Dewan Dakwah Islam Iran, awalnya mengatakan upacara perpisahan akan dimulai pukul 10.00 malam di Aula Doa Imam Khomeini di Teheran dan berlangsung selama tiga hari.

“Aula doa akan menerima pengunjung dan masyarakat dapat hadir dan mengambil bagian dalam upacara perpisahan dan sekali lagi menunjukkan kehadiran yang kuat,” kata Mahmoudi dalam komentar yang dimuat oleh media Iran, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis 5 Maret 2026.

Khamenei meninggal pada Sabtu, pada usia 86 tahun. Ia telah menjadi pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Khomeini, pendiri Iran pasca-Shah, yang memimpin revolusi negara tahun 1979.

Pemimpin tertinggi memegang otoritas tertinggi atas semua cabang pemerintahan, militer, dan peradilan, sekaligus bertindak sebagai pemimpin spiritual negara.

Ayatollah Ahmad Khatami, seorang ulama senior Iran yang merupakan anggota Dewan Penjaga dan Majelis Pakar yang berpengaruh, mengatakan bahwa negara itu hampir memilih pengganti almarhum Khamenei.

“Pemimpin Tertinggi akan diidentifikasi pada kesempatan terdekat, kita hampir sampai pada kesimpulan, namun situasi di negara ini adalah situasi perang,” kata Khatami kepada televisi pemerintah.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)