Evaluasi Early Warning System Krusial Atasi Karhutla di Taman Nasional

Kebakaran hutan di area Kaldera Bromo yang semakin meluas. Foto: Dokumentasi Balai Besar TNBTS.

Evaluasi Early Warning System Krusial Atasi Karhutla di Taman Nasional

M. Iqbal Al Machmudi • 11 August 2026 09:01

Jakarta: Sejumlah Taman Nasional di Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cukup besar. Maka dibutuhkan evaluasi early warning system untuk mencegah kejadian serupa berulang.

Hal itu disampaikan anggota Komisi IV DPR Daniel Johan merespons karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Menurut dia, investasi early warning system bisa melalui berbasis drone dan satelit harus dilakukan. 

"Agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau. Terutama tahun ini yang telah diprediksi el nino yang panjang harus siap siaga atas dampaknya," kata Daniel dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 11 Agustus 2026.

Daniel mengatakan beberapa titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sulit dijangkau. Sehingga, menjadi salah satu penyebab meluasnya karhutla di kawasan Taman Nasional.

"Perlu dipahami medan di beberapa titik Tengger sulit dijangkau tim darat, sehingga penggunaan water bombing menjadi pilihan yang tepat," ungkap Daniel.

Ia mendorong agar operasi pemadaman dilakukan secara sistematis. Serta, didukung penuh oleh teknologi dengan cara pemantauan titik api secara real-time melalui drone untuk memetakan sebaran api secara akurat.

"Sekaligus meminimalisir personel darat yang harus masuk ke titik-titik berisiko tinggi di medan berbahaya tersebut," ungkap Daniel. 

Data dari drone juga bisa menjadi dasar penentuan prioritas sasaran water bombing. Sehingga, upaya pemadaman lebih efektif dan tepat sasaran. 

Karhutla di lereng Gunung Bromo. Foto: Antara.

Selain itu koordinasi antara BNPB, BPBD, Balai Besar TNBTS, TNI-Polri, dan relawan juga perlu diperkuat agar tidak ada tumpang tindih maupun titik yang luput dari pemadaman. 

"Kami Komisi IV DPR RI juga meminta pemerintah pusat memastikan kecukupan anggaran serta dukungan logistik bagi personel di lapangan, mengingat keselamatan mereka harus jadi prioritas utama di medan seekstrem ini," ujar Daniel.

Selain itu, Daniel menyampikan keprihatinannya  atas kebakaran hutan di kawasan TNBTS. Kawasan konservasi ini bukan hanya aset ekologis penting, tetapi juga penopang ekonomi wisata masyarakat sekitar.

"Sehingga setiap hektare yang terbakar adalah kerugian jangka panjang yang tidak mudah dipulihkan," kata Daniel.

(Anggi Tondi)