Houthi Yaman Ambil Alih Kota Mokha, Perketat Kontrol di Laut Merah

Tentara Houthi mengangkat senjata selama parade di Sana'a, Yaman, 2 Desember 2023. (EFE/EPA/YAHYA ARHAB)

Houthi Yaman Ambil Alih Kota Mokha, Perketat Kontrol di Laut Merah

Riza Aslam Khaeron • 10 September 2026 16:17

Sanaa: Kelompok Houthi yang didukung Iran telah mengambil alih kendali atas Mokha, sebuah kota pelabuhan Yaman di pesisir Laut Merah yang berjarak kurang dari 80 km dari Selat Bab al-Mandab.
 
Informasi ini dilaporkan oleh Jerusalem Post yang mengutip Reuters, berdasarkan keterangan tiga pejabat pemerintah Yaman anti-Houthi pada Kamis, 10 September 2026. Pengambilalihan ini menjadi pencapaian signifikan bagi Houthi untuk memperluas dan memperdalam kendali mereka atas jalur navigasi strategis Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.

Media-media Arab pertama kali melaporkan bahwa pasukan pemerintah Yaman telah mundur dari kota tersebut pada Kamis pagi seiring kemajuan pasukan Houthi. Berbagai unggahan di media sosial juga menampilkan foto dan video yang memperlihatkan para pejuang Houthi sudah berada di dalam kota.

Namun, National Resistance Front (NRF), sebuah koalisi pasukan anti-Houthi yang dipimpin oleh Tareq Saleh, mantan sekutu Houthi sekaligus anggota senior pemerintah Yaman, menyatakan bahwa seorang komandan pasukan telah memimpin kontingen militer ke Mokha pada Kamis pagi.

"Reorganisasi pasukan dan konsolidasi [pertahanan Mokha] sedang berlangsung dalam koordinasi dengan koalisi anti-Houthi," demikian laporan media resmi NRF, sebagaimana dikutip dari dokumen tersebut.
 

Pertempuran Pemerintah Yaman dan Houthi


Peta wilayah yang dikuasai Houthi (hijau) dan pemerintah Yaman (ungu). (Anadolu)

Kedua kubu yang sedang bertempur di Yaman saat ini, pemerintah resmi Yaman yang diakui PBB yang berbasis di Aden sejak ibu kota Sanaa diambil alih Houthi satu dekade lalu diketahui didukung oleh Arab Saudi, sedangkan kelompok Houthi disokong oleh Iran.

Kondisi ini membuat Yaman kerap dipandang sebagai teater perang kedua dalam konflik regional Iran yang mengancam pasokan energi global.

Gencatan senjata yang dimediasi PBB pada tahun 2022 sempat menghentikan perang kedua kubu bertahun-tahun, tetapi kondisinya tetap rapuh dan kembali meletus menyusul serangan Saudi di bandara Sanaa pada bulan Juli.

Eskalasi antara kedua kubu kian meningkat dalam beberapa hari terakhir yang dimulai oleh serangan ofensif Houthi di wilayah Taiz, wilayah yang dikuasai pemerintah Yaman pada Kamis minggu lalu.

Seorang pejabat Yaman di Aden mengatakan kepada AFP bahwa Houthi bertujuan menguasai perbukitan yang menghadap Bab al-Mandab dan al-Makha. Menurut pejabat militer pemerintah yang dikutip Al Jazeera, Houthi telah merebut sejumlah wilayah sejak Kamis, terutama di Taiz barat, termasuk sebuah pangkalan militer strategis.

Senada dengan pejabat tersebut, Jurnalis Yousef Mawry dari Al Jazeera yang melaporkan dari Sanaa mengungkapkan bahwa tujuan utama serangan Houthi "tampaknya adalah merebut wilayah menuju kota dan pelabuhan Laut Merah al-Makha."

"Houthi ingin menggunakan Bab al-Mandab untuk 'perhitungan strategis militer yang diyakini para ahli bisa menjadi signifikan dalam perang yang akan datang melawan Arab Saudi atau melawan Israel'," tambah Mawry, sebagaimana dikutip dari laporan Al Jazeera.

Houthi sebelumnya pernah menguasai kota pelabuhan al-Makha, yang menghadap langsung Selat Bab al-Mandab penghubung Laut Merah ke Teluk Aden, sebelum akhirnya berhasil diusir pada tahun 2017 oleh pasukan pemerintah dan koalisi pimpinan Arab Saudi.
   

Blokade Selat Bab El-Mandeb Semakin Ketat

Selat Bab el-Mandeb, atau dikenal sebagai "Gerbang Air Mata" karena kondisi navigasinya yang berbahaya, merupakan pintu keluar selatan Laut Merah yang membentang di antara Yaman di Semenanjung Arab serta Djibouti dan Eritrea di pesisir Afrika. Posisinya yang sangat vital menjadikannya sasaran utama bagi Houthi, yang saat ini menguasai wilayah terpadat dan sebagian besar kawasan utara Yaman.

Selat ini merupakan salah satu rute maritim terpenting di dunia untuk pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari Teluk menuju Mediterania melalui Terusan Suez atau pipa SUMED di pesisir Laut Merah Mesir, sekaligus jalur utama komoditas yang menuju Asia, termasuk minyak dari Rusia.

Houthi telah mengumumkan blokade di Selat Bab el-Mandeb menyusul serangan Saudi di bandara Sana’a pada bulan Juli. Kendati demikian, Houthi belum memegang kendali penuh atas seluruh wilayah pesisir barat Yaman karena pemerintah Yaman masih mengontrol wilayah Taiz dan Lahij di bagian barat daya.

Dengan menguasai Mokha dan wilayah sekitarnya, Houthi semakin mendekati ambisi mereka untuk memegang kontrol penuh atas Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Pemblokiran jalur sempit ini berpotensi mengisolasi negara-negara produsen minyak di Teluk, seperti Arab Saudi, dari rute pelayaran utama mereka, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan arteri utama energi maritim antara Asia dan Eropa.

(Riza Aslam Khaeron)