Bio Farma resmi meluncurkan Bio-TCV. Foto: dok Bio Farma.
Indonesia Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi-Industri
Husen Miftahudin • 16 July 2026 19:09
Jakarta: PT Bio Farma (Persero) secara resmi meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri yang menjadi tonggak penting dalam memperkuat kedaulatan vaksin nasional.
Peluncuran ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara industri, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, regulator, pemerintah, serta mitra strategis global. Kehadiran Bio-TCV juga menunjukkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset, transfer teknologi, uji klinis, persetujuan regulator, produksi, hingga strategi perluasan akses bagi masyarakat.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan demam tifoid masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia sebagai negara endemis. Menurut dia, upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada vaksinasi, tetapi juga memerlukan perbaikan sanitasi, keamanan pangan, akses air bersih, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin dan mendukung penguatan sistem kesehatan nasional," ungkap Shadiq seperti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 16 Juli 2026.
Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat yang dikembangkan untuk membantu mencegah demam tifoid akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Vaksin ini dapat diberikan mulai usia enam bulan hingga dewasa sesuai indikasi yang telah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Indonesia masih menjadi negara endemis tifoid. Data World Health Organization (WHO) pada 2024 menunjukkan terdapat sekitar 9 juta kasus demam tifoid setiap tahun di dunia dengan sekitar 110 ribu kematian. Di Indonesia, prevalensi tifoid diperkirakan mencapai 1,6 persen dari populasi dengan angka kejadian sekitar 148,7 per 100 ribu penduduk.

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Strategi Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan penguatan kedaulatan kesehatan menjadi salah satu strategi Indonesia dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Menurut dia, kedaulatan kesehatan berarti kemampuan bangsa untuk mandiri dalam penelitian, pengembangan, dan produksi produk kesehatan strategis, termasuk vaksin.
"Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan regulator menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Indonesia masih menghadapi beban kasus tifoid yang tinggi sehingga membutuhkan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Bio-TCV menunjukkan melalui sinergi yang kuat, kita mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," ujar Benjamin.
Pengembangan Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi jangka panjang Bio Farma bersama International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010 yang diperkuat melalui transfer teknologi pada 2013. Dalam prosesnya, Bio Farma juga bekerja sama dengan FKUI-RSCM untuk melaksanakan uji klinis fase I, II, dan III sesuai standar ilmiah, etik, dan regulasi.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menegaskan kemandirian dalam pengembangan vaksin dan obat merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Menurutnya, pengalaman pandemi covid-19 menjadi pelajaran bahwa Indonesia harus memiliki kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri agar tidak bergantung pada pasokan global saat terjadi krisis kesehatan.
"BPOM mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga evaluasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Proses evaluasi regulatori juga dilakukan secara dipercepat tanpa mengurangi standar ilmiah yang berlaku. Kehadiran Bio-TCV menjadi bukti Indonesia semakin mampu menghasilkan vaksin hasil riset dan pengembangan anak bangsa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional," kata Taruna.