Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Foto: Antara.
Menkes Targetkan RI Produksi Sendiri 15 Antigen Vaksin Sebelum 2029
Anggi Tondi Martaon • 8 July 2026 22:21
Jakarta: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya menargetkan 11 antigen vaksin bisa dibuat riset dan pengembangannya oleh Indonesia. Sehingga, produk 15 antigen bisa diproduksi secara mandiri sebelum 2029.
Budi mengatakan bahwa Indonesia memakai 15 antigen, yaitu bibit virus yang digunakan untuk pembuatan vaksin. Dari jumlah tersebut, diciptakan 13 vaksin, dan salah satunya mengandung beberapa antigen sekaligus. Namun demikian, baru empat dari 15 yang bisa dibuat secara mandiri.
"Kita bakal pensiun tahun 2031. Bisakah kita membuatnya lebih cepat? 'Pengembangan vaksin bisa lama'. Saya tidak percaya, COVID-19, kita bisa melakukannya dalam 18 bulan, 20 bulan. Kenapa saya selalu menerima jawaban kami butuh 5-10 tahun?" kata Budi dikutip dari Antara, Rabu, 8 Juli 2026.
Selama ini, 11 vaksin itu dibuat hanya melalui proses seperti merangkai (assembly) mobil atau mesin. "Obatnya kita impor dari China dan India. Setelah itu, kita menuangkan ke botol dan selesai," ungkap Budi.
Baca Juga :
3 Jurus Menkes Sukseskan Imunisasi Nasional
Sehingga, ada dua hal yang ingin Budi capai, yaitu melakukan riset dan pengembangan agar vaksin-vaksin itu bisa 100 persen dibuat Indonesia. Kemudian, meningkatkan kapasitas domestik dalam pengembangan vaksin dari antigen atau bibit virus menggunakan kedua teknologi tersebut.
Dia menargetkan kemandirian vaksin tersebut tercapai sebelum Presiden Prabowo Subianto menyelesaikan masa jabatannya. Budi meminta bantuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan industri seperti Bio Farma, serta mitra-mitra guna mendorong transfer teknologi.

Ilustrasi vaksin. Foto: Istimewa.
"Hal bagus dari ini, bukan cuma melakukan riset dan pengembangan. Anda buat juga produk-produknya. Dan ada orang di luar sana yang siap beli dan menggelontorkan uang untuk membeli produk-produk Anda. Jadi bagus kan? Itu situasi yang ideal," kata Budi.
Menurut Budi, jurnal dan riset dapat berkontribusi bagi masyarakat apabila bisa diimplementasikan sebagai produk untuk menyelamatkan orang, dan tidak hanya sebatas tulisan di kertas. Budi menilai, hal inilah yang menjadi suatu kebanggaan bagi para ilmuwan.
"Jadi saya tunggu sebelum 2031, atau sebelum 2030, sebelum jabatan saya selesai, sehingga perusahaan pembuat vaksin bisa memproduksi 15 antigen ini. Dan disetujui Pak (Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan) Taruna Ikrar," ujar Budi.