Pembukaan perdagangan saham di BEI awal 2026. Foto: dok YouTube BEI.
Perdagangan Bursa Dibuka Hari Ini, Berpeluang Tembus Level 10 Ribu
Ade Hapsari Lestarini • 2 January 2026 13:54
Jakarta: Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2026 resmi dibuka oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pada pembukaan perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,34 persen ke level 8.676, mencerminkan optimisme pelaku pasar di awal tahun.
Optimisme sejalan dengan target jangka panjang BEI untuk masuk dalam 10 besar bursa efek dunia. Pembukaan perdagangan 2026 juga didukung oleh kinerja pasar saham sepanjang 2025 yang solid.
IHSG menutup perdagangan sepanjang 2025 di level 8.649,94 atau menguat 22,1 persen secara tahunan. Sepanjang tahun lalu, tercatat 24 kali rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) dengan kapitalisasi pasar menembus Rp16 ribu triliun untuk pertama kalinya.

Pembukaan perdagangan saham di BEI awal 2026. Foto: dok YouTube BEI.
Baca Juga :
BEI Targetkan Masuk Top 10 Bursa Dunia
Bidik masuk jajaran 10 besar bursa efek dunia
Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan target ambisius agar Indonesia masuk dalam 10 besar bursa efek dunia dalam lima tahun ke depan. BEI menargetkan pertumbuhan investor menjadi dua juta pada 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis IHSG berpotensi menembus level 10 ribu pada tahun ini, didorong perbaikan kebijakan dan peningkatan partisipasi investor.
Pada sesi I perdagangan 2 Januari 2026, pergerakan indeks menunjukkan variasi. IHSG ditutup menguat signifikan 0,90 persen atau naik 77,96 poin ke level 8.724,91, dengan pergerakan yang konsisten naik sejak pembukaan hingga penutupan.
Indeks LQ45 ditutup menguat tipis 0,31 persen atau naik 2,62 poin ke level 849,19, setelah sempat bergerak fluktuatif dan masuk zona merah sebelum berbalik menguat menjelang penutupan. Sementara itu, indeks SRI-KEHATI justru ditutup melemah 0,39 persen atau turun 1,50 poin ke level 381,39 akibat tekanan jual yang dominan sepanjang sesi.
Di tengah optimisme tersebut, terdapat catatan sepanjang 2025 saham-saham dalam indeks LQ45 hanya tumbuh 2,41 persen, jauh di bawah pertumbuhan IHSG. Pemerintah menilai kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi ke depan.
Analis juga mengingatkan IHSG saat ini masih berada dalam fase transisi dan konsolidasi di awal tahun, dengan sejumlah faktor eksternal yang patut diwaspadai, termasuk kebijakan tarif dari pemerintahan Donald Trump serta tensi geopolitik Rusia-Ukraina yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar. (Muhammad Adyatma Damardjati)