Kemenag NTT bersama tim BMKG NTT saat melakukan pemantauan hilal di rooftop Stasiun Geofisika Kelas I Kupang l, Kamis, 19 Maret 2026. ANTARA/Yoseph Boli Bataona
Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447 H di NTT Terkendala Awan Tebal
Silvana Febiari • 19 March 2026 19:38
Kupang: Pemantauan hilal (rukyatul hilal) di rooftop Stasiun Geofisika Kupang BMKG Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk penentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah terkendala oleh mendung berawan tebal dan hujan. Kondisi ini menyulitkan pengamatan hilal secara langsung.
“Hingga saat ini, hilal belum dapat terlihat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kondisi cuaca dan alam yang tidak memungkinkan. Selain itu, ketinggian hilal juga belum memenuhi ketentuan,” kata Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) NTT Achmad Alkatiri, dikutip dari Antara, Kamis, 19 Maret 2026.
Secara keseluruhan, Kementerian Agama melaksanakan rukyatul hilal di 117 titik di seluruh Indonesia. Sementara untuk wilayah NTT hanya terdapat satu titik pengamatan, yakni bersama BMKG di Kota Kupang.
“Selanjutnya kami akan memantau perkembangan informasi terkait hilal dari Kanwil Kemenag di berbagai wilayah di Indonesia,” ujarnya.
Hasil pengamatan tersebut, kata dia, diharapkan dapat menjadi dasar yang kuat dalam penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah dan memberikan kepastian bagi umat Islam dalam merayakan Idulfitri. Ia menambahkan rukyatul hilal bukan sekadar kegiatan teknis untuk melihat hilal, melainkan kolaborasi lintas sektor yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan keyakinan dapat berjalan berdampingan.
“Kegiatan ini bukan hanya soal melihat hilal, tetapi juga pembuktian. Kita ingin memastikan bahwa perhitungan hisab yang akurat hingga ke detik benar-benar sesuai dengan kenyataan,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan penetapan atau isbat awal bulan Syawal memiliki arti penting bagi umat Islam, khususnya di Indonesia. Sidang isbat merupakan mekanisme resmi pemerintah dalam menetapkan awal bulan-bulan tersebut.
“Kami sangat berharap pelaksanaan Idulfitri tahun ini dapat berlangsung dengan tertib, aman, damai, serta menjunjung tinggi nilai toleransi, kebersamaan, dan saling menghormati di antara sesama,” katanya.

Plh. Kepala Kanwil Kemenag NTT Achmad Alkatiri (tengah) memberikan keterangan kepada awak media di Kupang, Kamis, 19 Maret 2026. ANTARA/Yoseph Boli Bataona
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Kupang Arief Tyastama mengatakan proses penentuan awal bulan harus dilakukan secara cermat, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“BMKG sebagai institusi yang memiliki kompetensi dalam pengamatan dan analisis kondisi atmosfer serta dukungan data astronomi berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dalam mendukung pelaksanaan rukyatul hilal hari ini,” tuturnya.
Ia juga mengatakan kegiatan tersebut mencerminkan sinergi lintas sektor menjelang Hari Raya Idulfitri.