Jakarta Berantas Ikan Sapu-sapu, Pakar Ungkap 3 Strategi

ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto IPB University

Jakarta Berantas Ikan Sapu-sapu, Pakar Ungkap 3 Strategi

Muhamad Marup • 14 April 2026 23:22

Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan penanganan serius terkait ledakan populasi ikan sapu-sapu. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bahkan akan menjadwalkan rapat khusus bersama seluruh wali kota di Jakarta guna membahas hal tersebut.

Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles PH Simanjuntak, mengatakan, pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu. Menurutnya, tidak cukup hanya dengan proses penangkapan saja.

"Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis," ujar Charles, mengutip laman resmi IPB University, Selasa, 14 April 2026.

Benarkah Ikan Sapu-sapu Invasif?

Charles menjelaskan, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.

"Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen," jelasnya.

Ia menerangkan, satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan tersebut mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi.

Ikan sapu-sapu juga bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan. Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).

"Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan," katanya.

Kombinasi Tiga Strategi

Pencegahan

Dari sisi pencegahan, kata Charles, Pemprov DKI Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak.

"Selain itu, teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA (eDNA) dinilai efektif untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak awal sebelum populasinya meledak," ucapnya.

Penangkapan

Dalam kondisi populasi yang sudah tinggi, penangkapan tetap diperlukan, tetapi harus lebih selektif dan terarah. Menurutnya, penangkapan terhadap ikan berukuran kecil (kurang dari 30 cm) dapat lebih efektif dalam menekan populasi.

Pelibatan masyarakat juga menjadi kunci. Perburuan berbasis komunitas dinilai mampu menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi (masuknya ikan sapu-sapu) dari daerah lain.

"Karena itu,  perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya," terangnya.

Kontrol Biologis

Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat membantu mengendalikan populasi, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu berukuran 0,6–1,0 cm.

Ia juga mengusulkan upaya pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi. Namun, tidak dalam konteks untuk dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar nerpotensi mengandung logam berat.

"Dengan pendekatan terpadu dan melibatkan berbagai pihak, pengendalian ikan sapu-sapu diharapkan dapat dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta," ucapnya.

Pramono Kumpulkan Wali Kota

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjadwalkan rapat khusus bersama seluruh wali kota di Jakarta guna membahas penanganan ledakan populasi ikan sapu-sapu. Langkah ini diambil lantaran keberadaan ikan invasif tersebut dinilai telah memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap ekosistem lokal dan ketahanan infrastruktur sungai di ibu kota.

Dalam waktu dekat ini Pemerintah DKI Jakarta akan mengadakan rapat khusus mengenai ikan sapu-sapu karena saya akan minta seluruh wali kota, kalau di Pulau Seribu enggaklah, semua wali kota untuk menangani ini karena memang dampaknya sudah terasa,” ujar Pramono di Kantor Bina Marga DKI, Jakarta Timur, Selasa, 14 April 2026.

Pramono menjelaskan, ikan yang berasal dari Amerika Selatan ini berkembang biak sangat pesat. Sehingga, sulit dikendalikan.

Keberadaannya mengancam kelestarian ikan lokal, seperti wader, karena ikan sapu-sapu mendominasi sumber makanan di perairan Jakarta. Tidak hanya itu, perilaku ikan ini juga merusak struktur fisik tanggul sungai.

“Makanannya diambil semua dan mereka merusak tanggul-tanggul yang ada karena rumahnya itu di sana,” tuturnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)