Truk bantuan kemanusiaan berada di titik perlintasan Rafah. (Anadolu Agency)
Fase Pertama Gencatan Senjata Gaza Berakhir, Perlintasan Rafah Segera Dibuka
Willy Haryono • 27 January 2026 14:12
Tel Aviv: Militer Israel memulangkan sisa jasad sandera terakhir dari Gaza ke keluarganya pada Senin, 26 Januari. Pemulangan jenazah perwira polisi Israel, Ran Gvili, menandai berakhirnya tahap pertama kesepakatan damai dan membuka jalan bagi dimulainya fase kedua gencatan senjata yang lebih kompleks antara Israel dan kelompok Hamas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut evakuasi tersebut sebagai pencapaian besar dan menegaskan komitmennya untuk menuntaskan seluruh target militer yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kami telah menyelesaikan misi ini sesuai janji saya, dan kami akan menyelesaikan misi-misi lain yang telah ditetapkan,” ujar Netanyahu dalam pidatonya di hadapan parlemen Israel, Knesset.
Dengan terpenuhinya seluruh syarat pengembalian sandera, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa pemerintah akan segera membuka kembali perlintasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir.
Dikutip dari PBS News, Selasa, 27 Januari 2026, pembukaan perlintasan ini menjadi salah satu tuntutan utama warga Palestina, yang selama lebih dari dua tahun mengalami isolasi akibat blokade ketat.
Pembukaan Rafah diharapkan dapat memfasilitasi evakuasi medis bagi pasien dalam kondisi kritis, serta mempercepat distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza yang mengalami kehancuran parah akibat perang berkepanjangan. Warga Gaza menyatakan harapan bahwa langkah tersebut akan mengakhiri alasan Israel untuk terus menutup akses logistik dan kemanusiaan.
Meski demikian, proses menuju perdamaian jangka panjang diperkirakan masih menghadapi tantangan besar. Fase kedua gencatan senjata mencakup sejumlah isu sensitif, termasuk pelucutan senjata Hamas, penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, serta kemungkinan penempatan pasukan keamanan internasional untuk menjaga stabilitas.
Netanyahu menegaskan bahwa prioritas utama Israel dalam fase berikutnya bukan sekadar rekonstruksi wilayah, melainkan demiliterisasi penuh Gaza.
“Fase selanjutnya adalah melucuti senjata Hamas dan mendemiliterisasi Jalur Gaza,” tegas Netanyahu.
Sejak perang pecah pada Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 71.660 warga Palestina tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak. Meskipun gencatan senjata resmi berlaku sejak 10 Oktober 2025, berbagai insiden penembakan dan serangan terbatas masih terus terjadi, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 480 orang dalam beberapa bulan terakhir.
Di sisi lain, Asosiasi Pers Asing (Foreign Press Association/FPA) telah mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung Israel agar jurnalis internasional diizinkan masuk ke Gaza secara independen. Selama ini, akses media asing ke wilayah tersebut sangat dibatasi dan hanya diperbolehkan melalui pengawasan ketat militer Israel.
FPA menilai pembatasan tersebut menghambat transparansi dan peliputan objektif mengenai kondisi kemanusiaan di Gaza, serta menyulitkan dunia internasional memperoleh gambaran utuh mengenai dampak perang terhadap warga sipil. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Jenazah Ran Gvili, Sandera Israel Terakhir Ditemukan di Gaza