Bendera Arab Saudi. (Asharq Al-Awsat)
Setelah UEA, Arab Saudi Juga Dikabarkan Ikut Balas Serangan Iran
Riza Aslam Khaeron • 13 May 2026 09:22
Riyadh: Arab Saudi dilaporkan telah melancarkan puluhan serangan rahasia terhadap Iran sebagai pembalasan atas serangan yang menimpa Kerajaan selama perang di Timur Tengah. Langkah ini menandai pertama kalinya Kerajaan Arab Saudi secara langsung melakukan aksi militer di wilayah Iran, yang menunjukkan keberanian lebih besar dalam membela diri terhadap rival regional utamanya.
Dilansir dari AFP pada Selasa, 12 Mei 2026, dua pejabat Barat dan dua pejabat Iran yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa serangan yang diluncurkan oleh Angkatan Udara Saudi dilakukan pada akhir Maret 2026. Seorang pejabat menyebutkan bahwa aksi tersebut adalah "serangan balasan ketika Arab Saudi terkena serangan."Dalam menanggapi permintaan komentar, seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Saudi tidak secara langsung memberikan konfirmasi apakah serangan tersebut benar-benar dilakukan. Kementerian Luar Negeri Iran juga tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar tersebut.
Serangan Saudi ini menggarisbawahi meluasnya konflik dan sejauh mana perang yang dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026 telah menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran konflik yang belum diakui secara publik.
Sejak serangan AS dan Israel, Iran telah menghantam keenam negara teluk dengan rudal dan drone. Serangan tersebut menyasar pangkalan militer AS, situs sipil, bandara, infrastruktur perminyakan, hingga penutupan Selat Hormuz yang mengganggu perdagangan global.
Arab Saudi Memberi Tahu Iran Lebih Dulu

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. (Anadolu Agency)
Sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) juga dilaporkan telah melakukan serangan militer terhadap Iran. Aksi kolektif Saudi dan Emirat ini mengungkap realitas konflik yang sebagian besar masih tersembunyi, di mana monarki Teluk yang menjadi sasaran serangan Iran mulai melakukan perlawanan.
Namun, pendekatan keduanya tidaklah identik. UEA mengambil sikap yang lebih hawkish (garis keras), berusaha membalas Iran dan jarang terlibat dalam diplomasi publik dengan Teheran. Sementara itu, Arab Saudi berupaya mencegah konflik meningkat dan tetap menjaga komunikasi rutin dengan Iran.
| Baca Juga: UEA Dilaporkan Diam-Diam Menyerang Iran saat Perang Masih Berlangsung |
Pejabat Iran dan Barat mengatakan bahwa Arab Saudi memberi tahu Iran mengenai serangan tersebut, yang kemudian diikuti dengan keterlibatan diplomatik intensif serta ancaman Saudi untuk melakukan pembalasan lebih lanjut.
Namun pada akhir Maret 2026, Arab Saudi mengambil pendekatan lebih Hawkish seperti UEA yang akhirnya mendorong kedua pihak untuk melakukan deeskalasi, menurut sumber-sumber Barat.Deeskalasi informal ini mulai berlaku pada pekan sebelum Washington dan Teheran menyetujui gencatan senjata dalam konflik yang lebih luas pada 7 April 2026.
Mengutip Reuters, dari pernyataan Kementerian Pertahanan Saudi, jumlah serangan drone dan rudal terhadap Arab Saudi turun drastis dari lebih dari 105 serangan pada pekan 25–31 Maret menjadi hanya sekitar 25 serangan antara 1–6 April 2026.
Proyektil yang ditembakkan ke arah Arab Saudi pada hari-hari menjelang gencatan senjata awal April dinilai oleh sumber-sumber Barat berasal dari Irak, bukan dari Iran itu sendiri. Hal ini mengindikasikan bahwa Teheran telah membatasi serangan langsung, sementara kelompok-kelompok sekutunya tetap beroperasi.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com