Dolar AS Stabil, Mata Uang Asia Melempem

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Dolar AS Stabil, Mata Uang Asia Melempem

Eko Nordiansyah • 27 March 2026 07:48

New York: Sebagian besar mata uang Asia relatif tenang pada Kamis, 26 Maret 2026, sementara dolar AS tetap stabil. Ini karena investor mempertimbangkan sinyal yang beragam mengenai upaya untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Dikutip dari Investing.com, Jumat, 27 Maret 2026, indeks Dolar AS diperdagangkan datar selama jam perdagangan Asia setelah dua sesi mengalami kenaikan, didukung oleh permintaan aset aman. Kontrak Berjangka Indeks Dolar AS juga diperdagangkan sebagian besar tidak berubah.

Iran mempertimbangkan proposal perdamaian AS

Iran mengatakan sedang meninjau proposal AS yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan, dengan sinyal yang beragam mengenai apakah negosiasi akan berjalan lancar, sehingga investor tetap waspada.

Meskipun Iran belum secara resmi menerima rencana tersebut, mereka belum menolaknya secara langsung, sehingga menimbulkan harapan yang hati-hati akan potensi jalan menuju de-eskalasi.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan mengindikasikan perbedaan utama masih ada. Kurangnya kejelasan ini membuat para pedagang tetap waspada, dengan pasar minyak yang lesu pada Kamis.

"Tanpa de-eskalasi yang kredibel dan normalisasi aliran energi melalui Selat Hormuz, harga minyak yang tinggi dan imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi kemungkinan akan terus mendukung USD, sementara mata uang Asia pengimpor minyak tetap rentan," kata analis MUFG dalam sebuah catatan.

"Memang, harga Brent tetap di atas USD100 per barel, meskipun sedikit menurun dari level tertinggi baru-baru ini, sehingga risiko inflasi global cenderung meningkat," tambah mereka.

Pergerakan pasar valuta asing Asia lesu

Mata uang regional diperdagangkan dalam kisaran ketat, dengan investor enggan mengambil posisi besar di tengah ketidakpastian atas peninjauan proposal AS oleh Iran.

Pasangan yen Jepang USD/JPY diperdagangkan datar, sementara won Korea Selatan USD/KRW naik 0,1 persen.

Pasangan rupee India USD/INR naik 0,3 persen menjadi 94,15 rupee, sedikit di bawah rekor tertinggi 94,20 rupee yang dicapai pada sesi sebelumnya.

Pasangan yuan Tiongkok USD/CNY sebagian besar lesu, sementara dolar Singapura USD/SGD naik 0,1 persen. Pasangan dolar Australia AUD/USD naik tipis 0,1 persen.

Pasar mata uang juga dipengaruhi oleh ekspektasi seputar kebijakan moneter AS, dengan investor mempertimbangkan taruhan pada suku bunga AS yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama, yang dapat terus menopang dolar dan membatasi kenaikan mata uang Asia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)