Inggris menyiapkan kapal Royal Navy dengan drone untuk operasi sapu ranjau di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)
Inggris Siapkan Kapal dan Drone untuk Sapu Ranjau di Selat Hormuz
Willy Haryono • 29 March 2026 16:01
London: Inggris dilaporkan tengah menyiapkan pengerahan kapal Angkatan Laut Kerajaan (Royal Navy) ke Selat Hormuz untuk mendukung operasi penyapuan ranjau di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Laporan The Sunday Times menyebut kapal pendarat amfibi RFA Lyme Bay yang saat ini berada di Gibraltar akan dilengkapi sistem otonom pendeteksi dan pembersih ranjau sebelum kemungkinan dikerahkan.
Sumber yang dikutip media tersebut menyebut Menteri Pertahanan Inggris John Healey telah menyetujui rencana kontinjensi untuk mengirim kapal sepanjang 580 kaki tersebut ke Selat Hormuz.
Kapal itu disebut akan dilengkapi drone bawah air dan kapal pemburu ranjau, sehingga dapat berfungsi sebagai pusat operasi untuk pemindaian dasar laut dan penjinakan ranjau.
Namun, sumber pertahanan Inggris menegaskan belum ada keputusan final terkait pengerahan tersebut.
“Langkah pencegahan ini memberi opsi bagi pemerintah jika diperlukan untuk membantu memulihkan arus normal pelayaran komersial,” kata sumber tersebut, dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 29 Maret 2026.
Sebelumnya, unit drone milik Royal Navy yang telah berada di kawasan juga dilaporkan sedang dipertimbangkan untuk mendukung operasi tersebut. RFA Lyme Bay sendiri mampu mengangkut hingga 500 personel serta dilengkapi fasilitas medis dan sistem persenjataan.
Langkah ini muncul di tengah tekanan dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan ketidakpuasannya terhadap respons Inggris dan meminta London untuk lebih aktif dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa ribuan pasukan telah tiba di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan meningkat sejak serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan melalui drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Sejak awal Maret, Selat Hormuz sebagai jalur distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari mengalami gangguan signifikan, yang mendorong kenaikan biaya pengiriman dan harga minyak global.
Baca juga: Hikmahanto: Iran Bersikap Selektif di Selat Hormuz, Posisi Indonesia Dilematis