Ilustrasi perempuan. Foto- Freepik.com
Transisi Paruh Baya Jangan Dipandang sebagai Krisis Kehidupan
Achmad Zulfikar Fazli • 18 October 2026 21:25
Jakarta: Transisi paruh baya diminta tidak dipandang sebagai krisis kehidupan. Fase ini menjadi momentum bagi perempuan lebih mengenali kebutuhan tubuh, memprioritaskan kesehatan, dan menjalani babak kehidupan berikutnya dengan lebih baik.
“Transisi paruh baya bukanlah sebuah krisis kehidupan, melainkan sebuah kebangkitan,” ujar CEO First Care Clinic, Gadiza Fauzi, dalam festival kesehatan wanita Rise & Bloom di Jakarta, Minggu, 18 Oktober 2026.
Melalui partisipasi dalam festival Rise & Bloom, Gadiza mengatakan pihaknya ingin mendorong semakin banyak perempuan untuk memperoleh informasi yang tepat mengenai menopause dan perimenopause.
Pemahaman yang baik diharapkan dapat membantu mengurangi stigma seputar perubahan hormon yang kerap dianggap sebagai topik sensitif atau jarang dibicarakan.
Perempuan harus memahami perubahan hormon pada fase perimenopause, menopause, hingga pascamenopause sebagai bagian alami dari perjalanan hidup yang dapat dijalani dengan sehat dan percaya diri.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (OB/GYN) dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG (kiri), bersama CEO First Care Clinic Gadiza Fauzi (kanan). Dok. Istimewa
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, menekankan pentingnya membicarakan fase perimenopause dan menopause secara lebih terbuka. Meski merupakan bagian alami dari proses penuaan, perubahan hormon pada fase ini dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan kualitas hidup perempuan.
Oleh karena itu, kata dia, edukasi yang tepat serta pendampingan tenaga medis yang kompeten menjadi bagian penting. Dengan begitu, perempuan dapat memahami perubahan tubuhnya dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.