Kemenpar: Investasi Pariwisata Tembus Rp39,68 Triliun di Semester I

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardahana. Foto: Antara.

Kemenpar: Investasi Pariwisata Tembus Rp39,68 Triliun di Semester I

Husen Miftahudin • 21 October 2026 19:48

Jakarta: Menteri Pariwisata (Menpar) Widyanti Putri Wardhana menyebut sektor pariwisata terus menunjukkan perkembangan positif melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

Widya mencatat tren positif tersebut berlanjut pada semester I-2026 dengan realisasi investasi mencapai Rp39,68 triliun. Pada 2025, investasi pariwisata tercatat mencapai Rp73,56 triliun, meningkat 56,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Investasi pariwisata mencapai Rp73,56 triliun, meningkat 56,05 persen dibandingkan 2024. Tren ini berlanjut pada semester I-2026 dengan realisasi investasi mencapai Rp39,68 triliun, meningkat Rp16,54 triliun dibandingkan tahun 2025," ungkap Widyanti dalam agenda Rapat Kerja Nasional KEK Triwulan III di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Meski demikian, Widyanti menyebut lebih dari 50 persen investasi pariwisata masih terkonsentrasi di kawasan Jakarta dan Bali. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mendorong pemerataan investasi ke berbagai destinasi pariwisata di Indonesia.

"Namun, lebih dari 50 persen investasi pariwisata masih terkonsentrasi di greater Jakarta dan Bali.  Memang kami menyadari bahwa ada tantangan dalam mengembangkan kepentingan perniagaan lembaga yang belum optimal," ungkap dia.

Sejumlah tantangan lainnya meliputi pengembangan infrastruktur yang belum optimal, keterbatasan penyelenggaraan acara berskala internasional, serta pemenuhan standar pelayanan minimum (SPM) sesuai kebutuhan industri. Selain itu, keterbatasan proyek investasi unggulan yang dapat menjadi penggerak kawasan dan risiko lingkungan dalam pengembangan berskala besar juga menjadi perhatian pemerintah.

Guna mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Pariwisata melakukan sejumlah upaya, mulai dari peningkatan konektivitas, pengembangan infrastruktur dan promosi investasi, hingga dukungan penyelenggaraan acara serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
 

Promosi investasi dan penguatan konektivitas


Widyanti mengatakan, Kementerian Pariwisata terus membuka akses ke jaringan investor internasional melalui berbagai forum dan promosi di pasar strategis, termasuk Abu Dhabi, Osaka, Seoul, dan Beijing. Pengelola KEK juga didorong menyiapkan proyek-proyek potensial yang dapat ditawarkan kepada calon investor.

Dalam hal konektivitas, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkoordinasi dengan maskapai penerbangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mendorong pembukaan rute penerbangan baru melalui berbagai skema insentif.

Pemerintah juga berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti kebutuhan infrastruktur prioritas di destinasi pariwisata, termasuk yang terhubung dengan KEK.

Selain promosi investasi, pemerintah mendorong penyelenggaraan acara untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian daerah.

Widyanti mengatakan, Kementerian Pariwisata mendukung berbagai acara yang berpotensi mendatangkan wisatawan. Hingga 30 September 2026, sebanyak 160 dari 209 acara yang direncanakan telah mendapat dukungan pemerintah dan menarik sekitar 1,7 juta pengunjung.

"Hingga 30 September tahun ini Kementerian Pariwisata telah mendukung 160 dari 209 event yang direncanakan. Event-event tersebut telah menarik lebih dari sekitar 1,7 juta pengunjung," tutur dia.

Menurut Widya, penyelenggaraan acara tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah. Berdasarkan paparannya, kegiatan yang didukung pemerintah menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp1,140 triliun.

 
Perluas Jaringan Bisnis, Pariwisata Indonesia Bidik Pasar Global

(Ilustrasi pariwisata di Labuan Bajo. Foto: Instagram @kemenpar.ri)


Dorong peningkatan kualitas SDM


Di sisi lain, peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu fokus Kementerian Pariwisata untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di kawasan ekonomi khusus. Kemenpar memiliki enam politeknik pariwisata yang pada 2025 menghasilkan lebih dari 2.900 lulusan. Selain itu, program pelatihan berbasis kompetensi pada tahun yang sama menghasilkan lebih dari 2.600 lulusan.

Widya mengajak pengelola KEK untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal dan memberikan pelatihan sesuai kebutuhan industri. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata di berbagai kawasan. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Husen Miftahudin)