BUMDes Jadi Penggerak Kemandirian Ekonomi Masyarakat Desa

Ilustrasi, peningkatan perekonomian desa. Foto: dok Metrotvnews.com

BUMDes Jadi Penggerak Kemandirian Ekonomi Masyarakat Desa

Husen Miftahudin • 10 October 2026 10:08

Jakarta: Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu upaya memperkuat ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satunya dilakukan melalui pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Payang Sejahtera di Desa Sungai Payang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang mengembangkan berbagai unit usaha produktif dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Sejak 2017, program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Multi Harapan Utama (MHU), anak usaha MMS Group Indonesia (MMSGI), berfokus pada penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan usaha produktif. Pendekatan ini didukung kajian Sustainable Livelihood Approach (SLA) untuk mengidentifikasi potensi dan kebutuhan pengembangan ekonomi masyarakat.

Atas upaya tersebut, MHU meraih penghargaan Best Stewardship in Growing an Economy from Within kategori Economy & Livelihoods dalam Mata Lokal Award 2026. Penghargaan diserahkan dalam rangkaian Mata Lokal Fest 2026 di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta.

Melalui pendampingan yang dilakukan, BUMDes Payang Sejahtera berkembang menjadi lembaga ekonomi desa yang mengelola 14 unit usaha. Bidang usahanya mencakup jasa boga, transportasi, pengelolaan perkebunan, penyediaan air bersih, perikanan, konstruksi, hingga layanan pendukung operasional perusahaan.

Perkembangan usaha tersebut tercermin dari peningkatan omzet tahunan BUMDes, dari Rp4,67 miliar pada 2019 menjadi Rp27,67 miliar pada 2023. Secara kumulatif, omzet sepanjang 2019–2025 mencapai Rp115,11 miliar.

Selain menghasilkan pendapatan usaha, BUMDes tersebut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp1,68 miliar dan menyalurkan kontribusi tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) desa sebesar Rp589 juta.

Manfaat ekonomi program juga tercermin dari keterlibatan masyarakat dalam kegiatan usaha. Sebanyak 195 orang, terdiri atas 103 laki-laki dan 92 perempuan, terlibat dalam berbagai unit usaha BUMDes. Lembaga tersebut juga menjalin kemitraan dengan tujuh UMKM lokal. Kepercayaan masyarakat terhadap pengembangan usaha desa turut terlihat dari penyertaan modal warga yang mencapai Rp650 juta.
 



(MHU meraih penghargaan Best Stewardship in Growing an Economy from Within kategori Economy & Livelihoods dalam Mata Lokal Award 2026. Foto: dok MHU)
 

Penguatan kapasitas untuk jaga keberlanjutan usaha


Presiden Direktur MHU Kemal Djamil Siregar mengatakan, pemberdayaan masyarakat perlu diarahkan untuk membangun kemampuan warga dalam mengelola dan mengembangkan usaha secara mandiri. "Kami percaya bahwa keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak diukur dari seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk terus berkembang secara mandiri," kata Kemal dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 10 Oktober 2026.

"Melalui BUMDes Payang Sejahtera, kami ingin mendorong masyarakat menjadi pelaku utama pertumbuhan ekonomi di desanya sendiri. Ini juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan ekonomi masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan, termasuk menghadapi masa pascatambang," tambah Kemal.

Untuk mendukung keberlanjutan usaha, pengelola BUMDes mendapatkan pendampingan melalui pelatihan, sertifikasi, bimbingan teknis, dan studi tiru. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan usaha, keamanan pangan, sertifikasi HACCP, pemasaran digital, serta pelatihan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) pada 2026.

MHU juga mengembangkan program BUMDes Naik Kelas sebagai wadah pembelajaran dan penguatan tata kelola melalui pertukaran praktik baik dengan BUMDes lainnya.

Dampak pemberdayaan masyarakat juga diukur melalui kajian Social Return on Investment (SROI) oleh Universitas Kutai Kartanegara. Berdasarkan kajian tersebut, program pemberdayaan MHU mencatat nilai SROI sebesar 4,27. Angka ini menunjukkan nilai manfaat sosial sebesar Rp4,27 untuk setiap Rp1 investasi berdasarkan metodologi yang digunakan dalam kajian.

Selain pengembangan usaha, program tersebut mencakup peningkatan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, khususnya air bersih. Fasilitas pengolahan air atau water treatment plant (WTP) Kuntap melayani 60 kepala keluarga (KK), sedangkan WTP E-West melayani 582 KK.

Dalam perkembangan pembangunan desa, status Desa Sungai Payang meningkat dari sangat tertinggal pada 2017 menjadi desa maju sejak 2020 hingga 2025. Ke depan, penguatan BUMDes Payang Sejahtera diarahkan untuk mengembangkan peluang usaha, memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat, dan menjaga keberlanjutan kegiatan produktif di tingkat desa.

Upaya tersebut menjadi bagian dari persiapan menghadapi masa pascatambang, ketika kemampuan masyarakat mengelola usaha secara mandiri menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga aktivitas ekonomi lokal.

(Husen Miftahudin)