Atasi Kabut Asap Karhutla, BNPB Gelar Modifikasi Cuaca di Papua Barat

Tim operasi modifikasi cuaca (OMC) memuat bahan semai ke dalam pesawat sebelum melakukan penerbangan untuk meningkatkan potensi hujan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Foto: Antara.

Atasi Kabut Asap Karhutla, BNPB Gelar Modifikasi Cuaca di Papua Barat

Lukman Diah Sari • 14 October 2026 13:34

Manokwari: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar operasi modifikasi cuaca di Provinsi Papua Barat untuk mengatasi kabut asap sekaligus memaksimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut. Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan, operasi modifikasi cuaca mulai dilaksanakan setelah pesawat pembawa delapan ton logistik garam berhasil mendarat.

“Pesawat yang membawa logistik berupa garam tadi pagi sudah tiba di Bandara Rendani Manokwari, jadi hari ini juga operasi modifikasi cuaca mulai dilakukan,” ujar Dominggus di Manokwari, Rabu, 14 Oktober 2026, melansir Antara.

Dominggus menyebutkan, terdapat tiga kabupaten yang menjadi prioritas operasi modifikasi cuaca, yakni Fakfak, Teluk Bintuni, dan Kaimana. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan penyemaian awan juga menyasar wilayah Manokwari dan sekitarnya.

“Semoga dengan adanya modifikasi cuaca, kabut asap ini bisa hilang dan semua kegiatan masyarakat berjalan lancar, termasuk rute penerbangan kembali normal,” ucapnya.

Dominggus turut mengapresiasi kontribusi dua perusahaan minyak dan gas bumi (migas), yakni BP LNG Tangguh dan Genting Oil Kasuri, yang telah memberikan dukungan pembiayaan untuk operasi modifikasi cuaca tersebut. Modifikasi cuaca dinilai sebagai solusi paling efektif lantaran pemadaman dari jalur darat kerap terkendala keterbatasan personel dan sulitnya akses menuju titik api.

“Saat ini sudah ada empat ton logistik berupa garam. Sekali operasi bisa membawa satu ton garam, jadi bisa empat kali terbang. Semoga upaya ini membuahkan hasil maksimal,” tuturnya.

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan bersama jajaran meninjau logistik berupa garam yang digunakan untuk operasi modifikasi cuaca usai rapat di Bandara Rendani Manokwari, Rabu (14/10/2026). ANTARA/Fransiskus Salu Weking

Di sisi lain, Koordinator Lapangan Operasi Modifikasi Cuaca Fais Ramadhan menjelaskan, total kebutuhan logistik garam yang disiapkan mencapai delapan ton. Namun, penggunaannya dalam setiap penerbangan disesuaikan dengan kondisi dan keberadaan awan kumulus potensial di langit.

Pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar penyemaian yang menggunakan pesawat Smart Aviation jenis Cessna Caravan tersebut berjalan optimal dan sesuai ekspektasi.

“Operasi ditargetkan sampai 15 Oktober 2026, tapi apakah ada perpanjangan, tentu kami menunggu arahan BNPB. Kegiatan penyemaian ini mengacu pada rekomendasi BMKG,” kata Fais.

Sebagai informasi, hasil pantauan BMKG per 13 Oktober 2026 mencatat adanya 73 titik panas (hotspot) yang tersebar di Papua Barat. Rinciannya, 68 titik berstatus sedang, empat titik berstatus tinggi, dan satu titik berkategori rendah.

(Lukman Diah Sari)