Petugas gabungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, melakukan aksi bersih-bersih sampah di dua pantai di Kecamatan Cidaun, sekitar 2,5 ton sampah berhasil diangkut, Rabu (24/6/2026). ANTARA/Ahmad Fikri.
BRIN: 92% Sampah dari Daratan Berakhir di Pantai Indonesia
Atalya Puspa • 6 October 2026 10:23
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap sebanyak 92 persen aliran sampah yang berasal dari daratan berakhir di pantai Indonesia. Sampah tersebut terbawa melalui aliran sungai dan kemudian terakumulasi di sejumlah wilayah pesisir, terutama Jawa dan Bali.
Peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) BRIN Budhi Gunadharma Gautama mengatakan, temuan tersebut diperoleh melalui pemodelan pergerakan sampah laut. “Berdasarkan model simulasi yang digunakan dalam penelitian, sebanyak 92 persen aliran sampah berakhir di pantai Indonesia. Akumulasi sampah tersebut cukup tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa dan Bali,” ujar Budhi, dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 6 Oktober 2026.
Menurut Budhi, sejumlah kawasan pesisir Jawa menjadi titik akumulasi sampah yang cukup tinggi. Jakarta menjadi salah satu wilayah yang terdampak, selain Bali.
“Jawa ini ternyata terakumulasi di beberapa titik yang tinggi. Di Jakarta ya. Ini titik-titik yang di pantai Indonesia yang banyak sampah-sampah ini terdampar. Bali juga salah satu daerah yang terdampak. Jadi, memang Indonesia sampahnya memang lebih banyak berkumpul di Indonesia sendiri,” ungkap Bhudi.
Baca Juga :
Penanganan Sampah di 11 Sungai Jakarta Diperluas
Budhi menilai penanganan sampah laut tidak cukup hanya dilakukan dengan membersihkan sampah yang telah masuk ke laut. Upaya pencegahan harus dimulai dari daratan, terutama melalui pengelolaan sampah dan pengendalian sampah yang masuk ke sungai.
“Pencegahan masalah sampah itu harus memang dimulai dari darat, dan jangan sampai dirilis ke laut,” sebut Bhudi.
Selain untuk memetakan pergerakan sampah, pemodelan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan penyebaran pencemaran di laut, termasuk tumpahan bahan berbahaya.
Budhi mengatakan informasi mengenai arah dan pola penyebaran material pencemar dapat menjadi data ilmiah untuk mendukung penanganan pencemaran dan penegakan hukum lingkungan.

Gedung BRIN. Foto: Dok. Humas BRIN.
Sementara itu, Peneliti PRO BRIN Wahyu Budi Setyawan menyoroti persoalan sedimentasi di kawasan pesisir Bengkulu. Sedimentasi yang terjadi berulang di alur pelabuhan berpotensi menyebabkan pendangkalan dan memengaruhi kawasan pantai di sekitarnya.
Menurut Wahyu, perubahan pola transportasi sedimen menyebabkan material terus masuk ke alur pelabuhan. Di sisi lain, terdapat kawasan yang mengalami erosi akibat berkurangnya suplai sedimen alami.
“Kalau ini tidak ditangani, efeknya apa? Maka suplai sedimen ke pantai panjang pun akan terpengaruh,” kata Wahyu.
Wahyu menambahkan, perubahan distribusi sedimen tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pelabuhan, tetapi juga dapat berdampak terhadap kawasan wisata pantai dan sumber ekonomi masyarakat.
Kedua penelitian tersebut menunjukkan persoalan sampah laut dan sedimentasi pesisir berkaitan erat dengan proses yang terjadi dari daratan hingga laut. Karena itu, data dan pemodelan ilmiah dinilai penting untuk mengetahui pergerakan material, lokasi akumulasi, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.
BRIN mendorong hasil riset kelautan dan oseanografi dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam menangani persoalan sampah laut maupun sedimentasi pesisir.