Harga Minyak Pulih, Brent Kini USD106,14 per Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Pulih, Brent Kini USD106,14 per Barel

Eko Nordiansyah • 28 September 2026 08:18

Singapura: Harga minyak pulih lebih dari satu persen pada Senin, 28 September 2026. Kenaikan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menolak kesepakatan damai dari Iran untuk menyelesaikan konflik mereka dan membuka kembali Selat Hormuz.

Dikutip dari Investing, harga minyak mentah Brent naik USD1,82 atau 1,74 persen menjadi USD106,14 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di USD93,55 per barel, naik USD1,14 atau 1,23 persen.

Trump klaim harga minyak akan turun

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, harga minyak diperkirakan akan turun tajam segera setelah perang dengan Iran berakhir. Trump menyampaikan ini kepada para wartawan pada hari Minggu, seraya menyoroti peningkatan arus minyak yang sudah terjadi melalui Selat Hormuz. 

Ia juga mengatakan bahwa para negosiator AS kemungkinan akan melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan Iran minggu ini, demikian dilaporkan Axios yang mengutip sebuah wawancara telepon.

"Harga minyak akan turun segera setelah permintaan mereda, segera setelah perang berakhir (yang akan terjadi dalam waktu dekat). Harga minyak akan anjlok dan turun," ujarnya dikutip dari Investing, Senin, 28 September 2026.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah penolakan AS terhadap usulan terbaru Iran untuk segera membuka selat tersebut sepenuhnya jika syarat-syarat mereka dipenuhi, serta di tengah spekulasi bahwa AS menganggap situasi saat ini di selat tersebut masih dapat dikendalikan dan lebih baik daripada harus menerima syarat-syarat Iran.

"Ingat satu hal: harga minyak saat ini lebih murah dibandingkan masa pemerintahan Biden. Terlepas dari semua itu, kami mengeluarkan minyak dalam jumlah yang sangat besar. Tadi malam, kami mengeluarkan minyak dalam jumlah rekor dari Selat Hormuz, lebih banyak daripada jumlah yang kami keluarkan sebelum perang," tambahnya.

Trump juga mengatakan kepada Fox News pada hari Minggu bahwa kemungkinan serangan militer lebih lanjut terhadap Iran sebelum pemilihan umum paruh waktu bulan November tidak dikesampingkan. 

Iran enggan melunak

Iran menyatakan tidak akan melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz dan masih menunggu tanggapan pasti dari AS melalui pihak penengah, setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia telah menolak usulan Teheran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa Teheran mengetahui komentar Trump namun belum menerima tanggapan resmi melalui Qatar dan Pakistan, yang bertindak sebagai penengah. Ia menyatakan bahwa solusi melalui perundingan tetap menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi kebuntuan terkait jalur energi global yang vital tersebut.

Araghchi bertolak ke New York untuk memimpin delegasi tingkat tinggi dalam sidang ke-81 Majelis Umum PBB, dan diperkirakan akan tetap berada di kota tersebut hingga hari Rabu.

"Presiden Pezeshkian dan saya tidak datang ke New York untuk mengobarkan perang. Kami datang untuk mewujudkan perdamaian," ujar Araghchi dalam sebuah unggahan di X pada hari Minggu.

(Eko Nordiansyah)