Kelompok pemberontak TPLF mengklaim menewaskan 500 tentara Ethiopia dan melukai 800 lainnya. (Anadolu Agency)
Pemberontak Tigray Klaim 500 Tentara Ethiopia Tewas dalam Pertempuran Terbaru
Willy Haryono • 2 November 2026 20:14
Addis Ababa: Kelompok pemberontak Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) mengklaim pasukannya telah menewaskan 500 tentara dan melukai 800 lainnya dalam pertempuran terbaru dengan pasukan pemerintah federal Ethiopia dan milisi sekutu di wilayah Tigray, Ethiopia utara.
Mengutip dari Anadolu, Senin, 2 November 2026, TPLF pertempuran tersebut berlangsung pada Sabtu di dekat kota bersejarah Aksum.
Dalam pertempuran itu, pasukan TPLF melancarkan serangan balasan terhadap tentara Ethiopia dan anggota Pasukan Perdamaian Tigray (TPF) yang bersekutu dengan pemerintah.
Menurut stasiun televisi yang berafiliasi dengan TPLF, Dimtsi Weyane, kelompok pemberontak tersebut menewaskan 500 personel tempur, termasuk dua komandan resimen, serta melukai 800 orang lainnya secara serius. Pertempuran berlangsung di kawasan Daero Hafash dan May Tmqet, Distrik Naeder.
Stasiun televisi tersebut melaporkan pasukan pemerintah bergerak dari Aksum dan Mahbere Dego sebelum menghadapi perlawanan dari pejuang TPLF.
Kelompok itu juga mengklaim berhasil merebut sejumlah wilayah serta menyita senjata, amunisi, persediaan makanan, dan peralatan medis selama pertempuran.
TPLF menuduh pasukan federal menggunakan artileri dan drone untuk mendukung operasi mereka. Kelompok tersebut juga menyebut layanan telepon dan internet di kawasan itu mengalami gangguan.
Pemerintah Ethiopia belum memberikan komentar mengenai angka korban yang diklaim TPLF. Jumlah tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.
Pertempuran Kembali Memanas di Tigray
Klaim terbaru tersebut muncul setelah berminggu-minggu pertempuran antara pasukan federal dan pejuang TPLF. Situasi ini memicu kekhawatiran akan kembali pecahnya konflik berskala besar di Ethiopia utara.Pasukan pemerintah dan kelompok sekutunya merebut sejumlah kota, termasuk Mekelle, ibu kota regional Tigray, pada awal Oktober. Namun, pejuang TPLF terus melancarkan serangan balasan.
Kembali meningkatnya pertempuran juga memperburuk ketegangan antara Ethiopia dan negara tetangganya, Eritrea. Pemerintah di Addis Ababa menuduh Eritrea mendukung kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di Tigray. Eritrea membantah tuduhan tersebut.
Secara terpisah, Sudan menuduh Ethiopia mengizinkan peluncuran 70 serangan drone dari wilayahnya antara Februari dan Oktober. Serangan tersebut disebut menewaskan atau melukai ratusan warga sipil dan personel militer.
Pemerintah Sudan juga menuduh Addis Ababa mendukung kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), yang telah berperang melawan militer Sudan sejak 2023.
Eskalasi tersebut mengancam memperburuk ketidakstabilan di kawasan yang masih terdampak perang Tigray pada 2020–2022. Konflik tersebut menyebabkan jutaan orang mengungsi dan memicu penderitaan kemanusiaan yang meluas.
Baca juga: Serangan Drone Hantam Pengungsian di Ethiopia, 16 Warga Sipil Tewas