Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai menggelar Simposium Internasional 2026 untuk membahas peran kebun raya dalam konservasi keanekaragaman hayati. (Dok. Metro TV)
Kebun Raya Universitas Pahlawan Kampar Jadi Sorotan dalam Simposium Internasional 2026
Duta Erlangga • 11 October 2026 14:38
Kampar: Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Kabupaten Kampar, Riau, menggelar Simposium Internasional 2026 untuk membahas peran kebun raya dan kawasan pelestarian kampus dalam menjaga keanekaragaman hayati. Forum ini menghadirkan ahli dari lima negara untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman pengelolaan kawasan konservasi.
Simposium bertajuk Bridging Fragmentation berlangsung di Hotel Pangeran, Pekanbaru, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Para pembicara dari Australia, Tiongkok, Belanda, Malaysia, dan Brunei Darussalam membahas upaya menghubungkan habitat yang terpisah melalui kebun raya dan kawasan hijau.
Diskusi tersebut juga menyoroti peran kawasan pelestarian kampus dalam mendukung perlindungan warisan hutan hujan tropis Sumatra atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatra. Kegiatan melibatkan pelajar, mahasiswa, praktisi lingkungan, dan unsur pemerintahan.
Setelah simposium, kegiatan dilanjutkan dengan peresmian Kebun Raya Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai di Bangkinang, Kabupaten Kampar. Acara ditandai dengan penelusuran kawasan kebun raya bersama para pembicara serta dihadiri Bupati Kampar Ahmad Yuzar dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Kebun raya tersebut memiliki lahan seluas 130 hektare, dengan sekitar 30 hektare yang telah dikelola secara aktif dan produktif. Kawasan ini menjadi tempat koleksi tanaman sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai ruang penelitian, konservasi, dan edukasi lingkungan.
Pengelola mencatat kebun raya itu memiliki 320 koleksi pohon dari 75 spesies dan 44 famili, termasuk 10 jenis tanaman langka. Pengembangan kawasan secara bertahap diharapkan dapat memperluas area yang dikelola sekaligus memperkuat fungsi kebun raya sebagai pusat riset dan pembelajaran.

Rektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Prof. Dr. Amir Luthfi. (Dok. Metro TV)
Rektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Prof. Dr. Amir Luthfi, mengatakan pengembangan kebun raya berawal dari upaya kampus memperluas kawasan universitas. Lahan yang dibeli di sekitar kampus kemudian dimanfaatkan untuk mendukung visi universitas dalam bidang kualitas, kewirausahaan, dan pembangunan berkelanjutan.
“Kebun raya ini bermula dari program kita memperluas kampus. Lalu kita beli tanah-tanah sekitar kampus utama. Di antaranya terdapat hutan-hutan yang masih natural dan terdapat lembah. Terdapat koleksi-koleksi pepohonan yang langka,” ujar Amir dikutip dari Metro Siang, Minggu, 11 Oktober 2026.
Ia mengatakan kawasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi kebun raya sejalan dengan visi universitas, yakni quality, entrepreneurship, dan sustainable development.
Pada April 2026, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai juga menerima apresiasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) atas inisiatif pengembangan kebun raya untuk mendukung riset, konservasi, pendidikan, jasa lingkungan, dan wisata.

Royal Botanic Gardens Victoria, Australia, Alastair Robinson. (Dok. Metro TV)
Royal Botanic Gardens Victoria, Australia, Alastair Robinson, mengapresiasi perkembangan kawasan kebun raya tersebut. Ia menilai sejumlah pengembangan lanskap telah dilakukan meski kebun raya itu masih relatif muda.
“Saya sangat terkesan dengan fasilitas yang ada, karena saya memahami bahwa taman ini baru berusia tiga tahun. Namun, sudah banyak pengembangan yang dilakukan di area ini untuk memperbaiki lanskapnya. Ada banyak pohon muda yang memiliki potensi besar dan saya rasa seiring dengan perkembangannya, tempat ini akan menjadi sangat mengesankan,” kata Robinson.