Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PDIP, Sonny T. Danaparamita. Dok. Istimewa
Sinergi Kelompok Nasionalis dan Nahdliyin Dapat Perkuat Ketahanan Pangan
Achmad Zulfikar Fazli • 13 August 2026 17:57
Banyuwangi: Kolaborasi antara kelompok nasionalis dan Nahdliyin dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan. Apalagi, keduanya telah memiliki kedekatan historis dan ideologis.
Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PDIP, Sonny T. Danaparamita, menegaskan akan mendampingi petani dan memperkuat ketahanan pangan bersama Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU). Komitmen tersebut diwujudkan lewat penyaluran 1.000 bibit tanaman produktif, seperti alpukat dan durian okulasi, hasil sinergi dengan Kementerian Kehutanan melalui BPDAS.
"Kalau yang diperjuangkan di NU ini biasa disebut kaum mustadhafin (golongan yang dilemahkan), di kami mengistilahkannya kaum marhaen. Dua diksi tersebut hakikatnya memiliki makna yang sama," tegas Sonny dalam keterangan tertulis, Kamis, 13 Agustus 2026.
Di samping itu, dia membuka catatan sejarah lahirnya Hari Santri Nasional yang tak lepas dari inisiatif dua alumni GMNI, yakni Pengasuh Ponpes Babussalam Malang KH. Thoriq bin Ziyad dan Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR Achmad Basarah.
"Dari dorongan dua tokoh inilah, lahir kontrak politik pada Pemilu 2014 yang berujung pada penetapan Keppres tentang Hari Santri. Kehadiran saya di sini adalah upaya menjaga soliditas sesama syubbanul wathon yang akan bergerak bersama," seru Sonny.
Meski berlatar belakang aktivis nasionalis dan bukan santri, Sonny menegaskan ikhtiarnya untuk terus menghidupi akhlak seorang santri. Dia mengutip pandangan KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), yang menyebut ruh seorang santri tidak sebatas pada mereka yang mondok, melainkan tercermin pada sifat tawadhu' (rendah hati), semangat belajar sepanjang hayat (thalabul 'ilmi), moderat (wasathiyah), dan cinta Tanah Air (hubbul wathon minal iman).
Sebagai wujud thalabul 'ilmi, Sonny tengah menyelesaikan studi S3 yang berpegang pada filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Dia juga menyelipkan cerita hangat tentang usahanya mempraktikkan sikap tawadhu' setibanya di lokasi acara.
"Ketika saya tadi diminta panitia langsung memasukkan mobil ke halaman, saya tidak mau. Saya merasa kurang adab kalau mobil saya harus berhenti hanya beberapa meter dari panggung tempat para kiai duduk. Ini bentuk tawadhu' saya. Kalau dari mobil saya tidak merangkak, tapi jalan kaki ya agar tidak kotor, karena An-Nazhafatu Minal Iman (kebersihan sebagian dari iman)," ujar Sonny.

Penanaman bibit tanaman produktif di Yayasan Roudlotul Huda, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Rabu (12/8/2026). Dok. Istimewa
Langkah nyata ini sejalan dengan arahan Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, yang mewanti-wanti pengurus LPPNU agar tidak hanya bekerja secara administratif.
"Pengurus LPPNU harus rajin turun ke bawah, mendengarkan keluhan di sawah-sawah, dan mencarikan solusi atas persoalan pertanian," ujar Turmudzi.
Merespons arahan tersebut serta rencana Ketua LPPNU Banyuwangi menyalurkan bantuan tiga alat pertanian untuk MWC NU Songgon, Singojuruh, dan Kabat pada Oktober 2026, Sonny mengaku siap pasang badan.
"Mari kita dampingi petani kita demi terwujudnya masyarakat yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, yang dalam bahasa konstitusi kita adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Sonny.