Ilustrasi: Freepik
Asal Usul Rebo Wekasan, Bolehkah dalam Islam?
Riza Aslam Khaeron • 14 August 2026 11:07
Jakarta: Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dikenal di sejumlah daerah di Indonesia, terutama di kalangan masyarakat Jawa dan Sunda.
Tradisi ini dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah. Dalam pelaksanaannya, masyarakat biasanya mengisinya dengan doa, zikir, selamatan, salat, sedekah, silaturahmi, hingga berbagai ritual yang dimaknai sebagai ikhtiar untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari musibah.
Istilah Rebo Wekasan berasal dari bahasa Jawa. Kata "rebo" berarti Rabu, sedangkan "wekasan" berarti akhir atau penutup. Karena itu, secara sederhana Rebo Wekasan berarti Rabu terakhir atau Rabu penutup dalam bulan Safar. Tradisi ini juga dikenal dengan sejumlah nama lain, seperti Rebo Kasan dan Rebo Pungkasan.
Sejarah Awal Rebo Wekasan
Dilansir dari laman desasuci.gresikkab.go.id, dalam sejarah lokal masyarakat Suci, tradisi Rebo Wekasan diyakini telah berlangsung sejak masa Sunan Giri. Tradisi tersebut disebut lahir dari instruksi langsung Sunan Giri yang kemudian disampaikan melalui salah seorang muridnya, Syekh Jamaludin Malik.Menurut sejarah lokal yang berkembang di masyarakat, Rebo Wekasan di Desa Suci telah berlangsung sejak sekitar tahun 1483. Tradisi tersebut kemudian terus dilaksanakan secara turun-temurun selama ratusan tahun hingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga saat ini.
Pelaksanaan Rebo Wekasan di Berbagai Daerah

Ilustrasi: Freepik
Bentuk pelaksanaan Rebo Wekasan tidak selalu sama di setiap daerah di Indonesia.
Di Yogyakarta, Rebo Wekasan dikenal sebagai Rebo Pungkasan dan salah satu puncak tradisinya berupa arak-arakan lemper raksasa yang kemudian dibagikan kepada masyarakat. Di Aceh, tradisi ini dikenal sebagai Rabu Abeh dan diisi dengan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar menolak bala.
Sementara itu, masyarakat Banten dan Tasikmalaya memiliki tradisi Rebo Wekasan yang antara lain diisi dengan pelaksanaan salat dan doa bersama.
Di Banyuwangi, Rebo Wekasan dapat diperingati melalui tradisi petik laut dan kegiatan makan bersama.
Adapun di Kalimantan Selatan, tradisi serupa dikenal dengan nama Arba Mustamir dan dapat diisi dengan salat sunah, doa tolak bala, selamatan kampung, serta kegiatan lainnya.
Di Gresik, khususnya Desa Suci, Rebo Wekasan juga menjadi tradisi yang memiliki karakter tersendiri. Tradisi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk tolak bala sekaligus ungkapan rasa syukur, dengan kegiatan seperti doa, salat sunah, dan sedekah.
Rebo Wekasan dan Kepercayaan Tentang Bulan Safar
Salah satu latar belakang yang sering dikaitkan dengan Rebo Wekasan adalah kepercayaan mengenai banyaknya musibah atau bala yang terjadi pada bulan Safar, khususnya pada Rabu terakhir.Dalam sejumlah literatur keagamaan yang kemudian berkembang di masyarakat, terdapat keterangan dari sebagian ulama atau ahli kasyaf mengenai turunnya berbagai bala pada Rabu terakhir bulan Safar.
Salah satu sumber yang sering dirujuk adalah kitab Mujarrabat ad-Dairabi karya Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi. Kitab tersebut memuat keterangan mengenai sejumlah bala yang dipercaya turun pada Rabu terakhir bulan Safar.
Keterangan serupa juga ditemukan dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur karya Syekh Abdul Hamid Quds. Dalam literatur tersebut, Rebo Wekasan dikaitkan dengan turunnya sejumlah bala pada hari tersebut.
Pandangan inilah yang kemudian ikut memengaruhi praktik masyarakat untuk memperbanyak doa dan melakukan berbagai kegiatan yang dimaksudkan sebagai ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah Swt.
Namun, penting untuk membedakan antara kepercayaan yang berkembang dalam tradisi masyarakat dengan ajaran Islam yang memiliki dasar nash yang tegas.
Anggapan bahwa bulan Safar atau hari Rabu terakhir di dalamnya merupakan waktu yang secara khusus membawa kesialan tidak memiliki dasar yang disepakati dalam sumber utama Islam.
Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Rebo Wekasan?
Rebo Wekasan juga menjadi pembahasan di kalangan ulama karena terdapat praktik ibadah tertentu yang secara khusus dikaitkan dengan hari tersebut.Salah satunya adalah salat Rebo Wekasan. NU Online menjelaskan bahwa tidak terdapat nash yang secara jelas menganjurkan salat khusus untuk Rebo Wekasan. Karena itu, salat yang secara khusus diniatkan sebagai "salat Rebo Wekasan" dipersoalkan dalam kajian fikih.
Sementara itu, kegiatan seperti doa, zikir, sedekah, silaturahmi, dan ibadah lainnya pada dasarnya dapat dilakukan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt. Yang perlu diperhatikan adalah niatnya, yakni tidak meyakini bahwa hari Rabu terakhir bulan Safar secara mutlak membawa kesialan atau bahwa musibah pasti turun pada hari tersebut.
(Siti Nahdia Usman)