Enam Anggota Militer AS Tewas Sejak Awal Serangan di Iran

Iran melancarkan serangan balasan ke Israel di Beit Shemesh. Foto: The New York Times

Enam Anggota Militer AS Tewas Sejak Awal Serangan di Iran

Fajar Nugraha • 3 March 2026 09:36

Doha: Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa jumlah personel militer Amerika Serikat yang tewas dalam tugas selama operasi gabungan AS-Israel terhadap Iran telah meningkat menjadi enam orang.

Pernyataan ini dikeluarkan menyusul ditemukannya dua jenazah tentara tambahan yang sebelumnya dinyatakan hilang.

"Hingga 2 Maret, pukul 16.00, enam anggota layanan AS telah gugur dalam tugas. Pasukan AS baru-baru ini menemukan sisa-sisa dua anggota layanan yang sebelumnya tidak ditemukan dari fasilitas yang terkena serangan awal Iran di kawasan tersebut," bunyi pernyataan resmi CENTCOM melalui platform X, seperti dikutip TRT World, Selasa, 3 Maret 2026.

CENTCOM menambahkan bahwa identitas para prajurit yang tewas akan dirahasiakan hingga 24 jam setelah keluarga terdekat mereka diberitahu.

Pengumuman ini menyusul laporan sebelumnya yang mengatakan empat tentara tewas, termasuk satu personel yang mengembuskan napas terakhir akibat luka parah yang diderita saat serangan balasan Iran.

Laporan dari lembaga penyiaran Amerika, CBS News, yang mengutip pejabat AS dan sumber terkait, menyebutkan bahwa seluruh enam anggota militer tersebut tewas di Kuwait akibat serangan balasan Iran yang terjadi pada akhir pekan lalu.

Selain korban jiwa, laporan sebelumnya mengindikasikan bahwa sedikitnya 18 anggota layanan AS telah terluka sejak serangan gabungan AS-Israel diluncurkan pada hari Sabtu. Operasi militer besar-besaran ini secara resmi diberi sandi "Operation Epic Fury."

Serangan gabungan tersebut dilaporkan telah menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan beberapa negara Teluk, terutama pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Pihak militer AS menegaskan bahwa saat ini operasi tempur utama masih terus berlangsung di kawasan tersebut seiring meningkatnya tensi geopolitik.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)