Waspadai Gejala '3C': Tanda Awal Anak Terserang Campak yang Sangat Menular

Ilustrasi campak. Foto: ANTARA/freepik.com.

Waspadai Gejala '3C': Tanda Awal Anak Terserang Campak yang Sangat Menular

Fachri Audhia Hafiez • 1 March 2026 17:30

Jakarta: Masyarakat diminta mewaspadai tiga stadium gejala klinis penyakit campak yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat menyebut virus ini menyebar melalui udara (airborne) dengan pola penularan yang menyerupai tuberkulosis (TBC), di mana satu pasien dapat menularkan virus hingga ke 18 orang di sekitarnya.

“Mulai sakit-sakit, demamnya naik tinggi, ada 3C coryza, conjunctivitis, cough yang khas, ini 3 sampai 5 hari. Kalau dokter akan memeriksa ada atau tidak koplik's spot (bintik putih di mulut) sebelum munculnya ruam yang khas dari campak,” ujar Ketua IDAI Jawa Barat, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), dalam seminar media daring, dilansir Antara, Minggu, 1 Maret 2026.
 


Prof. Anggraini menjelaskan bahwa fase awal atau stadium prodromal ditandai dengan demam tinggi dan gejala "3C", yakni pilek (coryza), batuk (cough), dan mata merah (conjunctivitis). Setelah itu, pasien akan memasuki stadium erupsi yang ditandai dengan munculnya ruam kemerahan mulai dari belakang telinga atau batas rambut, lalu menyebar ke seluruh tubuh hingga lengan dan tungkai.

Fase terakhir adalah stadium konvalesens, di mana ruam akan berubah warna menjadi lebih gelap, mengering, dan mengelupas dengan tampilan bersisik. Pasien baru dinyatakan tidak menularkan virus lagi setelah ruam tersebut mengering atau menghitam. Perlu diwaspadai bahwa virus campak dapat melayang di udara hingga lebih dari dua jam, terutama di lingkungan yang lembap dan minim ventilasi.

“Jadi penularan campak itu bukan main. Mirip seperti TBC, bayangkan dari satu itu bisa ke 18,” imbuh Anggraini.


Ilustrasi - Seorang anak menerima imunisasi campak. Foto: ANTARA/HO - Kemenkes.

Terkait pencegahan, IDAI menekankan pentingnya cakupan imunisasi yang tinggi dan merata untuk membentuk herd immunity minimal 94 persen di suatu wilayah. Tanpa perlindungan kelompok yang kuat, risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) akan sangat besar. Pemerintah sendiri telah menetapkan jadwal imunisasi campak sebanyak tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di kelas 1 SD.

“Upayakan setiap balita imunisasinya lengkap sebelum masuk PAUD, ayo kalau terlewat itu kejar. Satu campak saja waduh bisa menularkan ke mana-mana, sehingga imunisasi yang lain diingatkan,” kata Anggraini.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)