KLB Campak Mengintai, IDAI Bongkar Penyebab Lonjakan Kasus di Indonesia

Ilustrasi - Seorang anak menerima imunisasi campak. Foto: ANTARA/HO - Kemenkes.

KLB Campak Mengintai, IDAI Bongkar Penyebab Lonjakan Kasus di Indonesia

Fachri Audhia Hafiez • 1 March 2026 15:50

Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti rendahnya cakupan imunisasi yang masih menjadi pemicu utama meningkatnya kasus campak di Indonesia. Sebagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), campak kini menjadi ancaman serius akibat tidak tercapainya ambang batas kekebalan kelompok atau herd immunity di berbagai wilayah.

“Problem di masalah campak ini sebetulnya adalah di cakupan imunisasi. Jadi penyakit ini termasuk penyakit PD3I, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,“ ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), dikutip dari Antara, Minggu, 1 Maret 2026.
 


Dokter Piprim menjelaskan bahwa meskipun pemerintah telah menyediakan vaksin secara gratis, pelaksanaannya masih terhambat kendala teknis seperti keterbatasan akses layanan hingga gangguan rantai dingin (cold chain) yang merusak kualitas vaksin. Selain itu, fenomena penolakan vaksin (vaccine hesitancy) akibat disinformasi turut memperburuk situasi.

“Karena sangat menular, cakupannya harus tinggi untuk terbentuk herd immunity. Jadi kalau cakupannya turun katakanlah 60 persen saja, itu sudah muncul Kejadian Luar Biasa (KLB)-nya di mana-mana,” tutur Piprim.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa campak tidak boleh disepelekan karena memiliki tingkat penularan yang jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19. Tanpa proteksi imunisasi, campak dapat memicu komplikasi fatal seperti radang paru (pneumonia), radang otak, hingga kebutaan. 

Selain imunisasi, perbaikan nutrisi dengan asupan tinggi protein hewani sangat diperlukan untuk memperkuat daya tahan tubuh anak. “Jadi sebetulnya ini adalah sebuah wake-up call ya, alarm yang harusnya menyadarkan kita bahwa campak ini tidak bisa dianggap ringan,” tegasnya.


Ilustrasi - Campak. Foto: ANTARA/Shutterstock.

IDAI pun mengimbau orang tua untuk lebih peka terhadap deteksi dini dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala. Piprim mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap remeh tanda-tanda bahaya yang muncul pada anak yang terinfeksi.

“Jangan sampai ya beberapa kasus dibiarkan saja di rumah, tidak kenal adanya tanda bahaya seperti pneumonia, anaknya sesak dan sebagainya dibiarkan saja, kemudian meninggal karena tanpa ada pertolongan yang memadai,” ujar Piprim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)