Paramiliter RSF lakukan perlawanan terhadap pemerintah Sudan. Foto: EFE-EPA
RSF Bombardir Rumah Sakit di Sudan Selatan, 22 Orang Tewas
Muhammad Reyhansyah • 6 February 2026 15:46
Kordofan: Sedikitnya 22 orang tewas dan delapan lainnya terluka setelah paramiliter Rapid Support Forces (RSF) bombardir Rumah Sakit Militer Al-Kuweik di Sudan.
Pengeboman ini terjadi di negara bagian Kordofan Selatan, Sudan. Informasi tersebut disampaikan oleh sebuah kelompok medis pada Kamis, 5 Januari 2026.
Dalam pernyataannya, Sudan Doctors Network menyebutkan bahwa para korban tewas termasuk direktur medis rumah sakit tersebut serta tiga tenaga kesehatan lainnya.
Dilansir dari Anadolu, Jumat, 6 Februari 2026, kelompok itu mengecam keras serangan tersebut dan menyatakan bahwa penargetan fasilitas kesehatan serta personel medis “merupakan kejahatan perang dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional serta konvensi yang menjamin perlindungan warga sipil dan institusi medis.”
Menurut jaringan dokter tersebut, serangan ke rumah sakit itu bukanlah insiden terpisah, melainkan bagian dari rangkaian serangan di Kordofan Selatan yang telah memaksa sejumlah rumah sakit berhenti beroperasi. Situasi ini, kata mereka, memperparah krisis kemanusiaan dan mengancam sisa layanan kesehatan yang masih tersedia bagi warga sipil.
Sudan Doctors Network menyatakan RSF bertanggung jawab penuh atas serangan tersebut dan mendesak komunitas internasional, badan-badan PBB, serta organisasi hak asasi manusia untuk segera mengambil langkah guna menghentikan serangan berulang terhadap fasilitas medis.
Dari total 18 negara bagian di Sudan, RSF menguasai seluruh lima negara bagian di wilayah Darfur barat, kecuali sebagian wilayah Darfur Utara yang masih berada di bawah kendali militer Sudan.
Sementara itu, angkatan bersenjata Sudan menguasai sebagian besar wilayah di 13 negara bagian lainnya di selatan, utara, timur, dan tengah negara tersebut, termasuk ibu kota Khartoum.
Konflik bersenjata antara militer Sudan dan RSF yang pecah pada April 2023 telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga mengungsi dari tempat tinggal mereka.