Tulis Surat, Zelensky Ajak Putin Bertemu Langsung dan Tawarkan Gencatan Senjata

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: Anadolu

Tulis Surat, Zelensky Ajak Putin Bertemu Langsung dan Tawarkan Gencatan Senjata

Fajar Nugraha • 5 June 2026 09:27

Kyiv: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengajukan proposal pertemuan tatap muka kepada Presiden Rusia Vladimir Putin melalui sebuah surat terbuka yang langka.

Langkah ini diambil tak lama setelah pemimpin Kremlin tersebut mengakui bahwa Moskow perlu memperkuat sistem pertahanan udaranya menyusul rentetan serangan dari pihak Ukraina.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang terus mendesak kedua belah pihak untuk mengakhiri konflik, menyambut baik rencana tersebut dan menilai pertemuan langsung antara Putin dan Zelensky akan berdampak sangat baik. Meski demikian, Trump tetap mendorong agar kedua negara bersedia melakukan kompromi politik.

Di pihak lain, Istana Kremlin menyatakan bahwa surat tersebut belum ditunjukkan secara langsung kepada Putin. Namun, Kremlin menyampaikan bahwa Zelensky bisa menemui Putin di Moskow kapan saja, sebuah opsi tempat yang sebenarnya sudah ditolak lebih awal oleh Zelensky di dalam suratnya.

"Ukraina mengusulkan untuk mengakhiri perang ini melalui keterlibatan langsung antara kami dan Anda. Saya mengusulkan sebuah pertemuan, saya mengusulkan untuk menetapkan tanggal yang jelas untuk pertemuan tersebut, Ukraina siap untuk gencatan senjata penuh selama durasi negosiasi," tulis Zelensky dalam surat terbuka tersebut, seperti dikutip Channel News Asia, pada Jumat, 5 Juni 2026.

Zelensky mempublikasikan surat tersebut sehari setelah kawanan drone Ukraina berhasil menghantam Saint Petersburg. Serangan tersebut bertepatan dengan momen kota kelahiran Putin itu tengah menjadi tuan rumah forum ekonomi internasional utama pada pekan ini.

Pemimpin Ukraina tersebut memang telah berulang kali menyerukan pertemuan langsung dengan mantan agen KGB itu. Zelensky menegaskan bahwa hanya negosiasi tatap muka yang dapat menghasilkan kesepakatan konkret terkait sengketa wilayah kedaulatan kedua negara.

Langkah Zelensky untuk mengirimkan pesan dan menyapa langsung pemimpin Rusia ini dinilai sebagai sebuah peristiwa yang sangat jarang terjadi dalam dinamika konflik kedua negara.

Trump, yang sempat menghadapi kritik karena mengecam Zelensky di Gedung Putih tahun lalu namun mengundang Putin ke KTT di Alaska, mengaku senang mendengar kabar bahwa kedua pemimpin tersebut kemungkinan akan melangsungkan pertemuan.

Saat memberikan keterangan kepada wartawan di Ruang Oval, Trump mengeklaim pihaknya memiliki andil besar dalam mendorong terciptanya rencana pertemuan tersebut.

"Saya pikir akan sangat bagus jika mereka bertemu. Mereka harus menyelesaikannya," ujar Trump.

Sejauh ini, rangkaian negosiasi selama berbulan-bulan yang dipimpin AS masih gagal mendekatkan kedua belah pihak pada kesepakatan damai. Fokus perhatian Trump sendiri belakangan ini sebagian besar tersita oleh perang Iran yang diinisiasi oleh AS dan Israel sejak lebih dari tiga bulan lalu.

"Mereka berdua akan membuat kompromi, saya menyarankan kompromi-kompromi tersebut, dan Anda tahu, kami memiliki banyak peran di dalamnya," kata Trump mengenai Rusia dan Ukraina tanpa merinci bentuk kompromi yang dimaksud.

Rusia, yang meluncurkan invasi sejak tahun 2022, tetap bersikeras menuntut Ukraina menarik pasukannya dari wilayah Donbas timur sebagai syarat mutlak sebelum negosiasi damai dimulai. Padahal, sebagian besar wilayah strategis tersebut saat ini masih berada di bawah kendali penuh militer Kyiv.

Saat berbicara kepada jurnalis asing di Saint Petersburg sesaat sebelum surat terbuka Zelensky rilis, Putin kembali mempertanyakan legitimasi kepemimpinan Zelensky. Menurut Putin, status keabsahan Zelensky sebagai presiden memerlukan analisis hukum lebih lanjut setelah masa jabatan lima tahun pertamanya resmi berakhir pada tahun 2024 lalu.

Aturan hukum darurat militer di Ukraina sendiri melarang pelaksanaan pemilu selama masa perang. Merespons hal itu, Zelensky menyatakan kesiapannya untuk menggelar pemungutan suara atau referendum terkait kesepakatan damai final, dengan syarat gencatan senjata total telah diberlakukan terlebih dahulu.

Di sisi lain, Putin menegaskan hanya bersedia menemui Zelensky untuk mengesahkan draf perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya, sekaligus menolak mentah-mentah ajakan bertemu sebelum draf tersebut rampung.

"Zelensky bisa datang kapan saja ke Moskow," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sebagaimana dikutip oleh media pemerintah Rusia pascarilisnya surat tersebut.

Ukraina terpantau terus mengintensifkan serangan balasan jarak jauhnya yang membidik target energi dan pangkalan militer di wilayah Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Kyiv menyebut aksi pemboman tersebut sebagai respons balasan yang adil atas serangan udara bertubi-tubi yang dilancarkan militer Rusia setiap malam.

"Jika Anda secara pribadi tidak menyimpulkan bahwa ini saatnya untuk mengakhiri perang ini, Ukraina akan terus berjuang demi eksistensinya," tegas Zelensky dalam suratnya kepada Putin.

Pada hari Kamis, Putin melayangkan pujian atas pencapaian pasukannya di medan perang di tengah meningkatnya rasa percaya diri pihak militer Ukraina. Ketika ditanya oleh awak media mengenai apakah operasi ofensif Rusia ke Ukraina telah berubah menjadi bencana strategis, Putin membantah hal tersebut dan mengeklaim pasukannya terus bergerak maju di sepanjang garis kontak.

"Kami sangat siap dan bersedia untuk mencapai kesepakatan dengan Ukraina melalui jalur damai," tambah Putin.

Meskipun demikian, laju pergerakan pasukan Rusia terpantau melambat sejak akhir tahun 2025. Data intelijen terbaru bahkan menunjukkan bahwa militer Ukraina berhasil merebut kembali beberapa titik wilayah yang sempat diduduki Rusia.

Berdasarkan analisis data dari Institute for the Study of War yang dirilis AFP, Ukraina sukses merebut kembali lebih banyak wilayah kedaulatan dibandingkan area yang hilang akibat direbut pasukan Rusia selama dua bulan berturut-turut hingga Mei lalu. Putin akhirnya menerima fakta bahwa Rusia perlu segera meningkatkan kualitas sistem pertahanan udaranya.

Pengakuan ini terlontar sehari setelah drone Ukraina sukses menghantam terminal minyak dan pangkalan angkatan laut di Saint Petersburg, tepat saat Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg resmi dibuka.

"Rusia memiliki sistem pertahanan udara. Ya, kita harus meningkatkannya. Ya, kita harus memperkuatnya. Dan kita akan melakukannya," pungkas pemimpin Rusia tersebut.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)