Dugaan Penyebab Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, KNKT: Masalah Sinyal hingga Komunikasi

Evakuasi korban kecelakaan kereta api di Bekasi. Foto: Antara

Dugaan Penyebab Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, KNKT: Masalah Sinyal hingga Komunikasi

Gabriella Thesa Widiari • 21 May 2026 19:55

Jakarta: Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjanto mengungkapkan dugaan penyebab insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Salah satunya terkait persinyalan. 

"Kalau menurut kami ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam kecelakaan ini. Pertama sinyal," kata Soerjanto dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
 


Terkait masalah persinyalan, dia menjelaskan, masinis Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek tidak bisa melihat sinyal bantu karena terdistraksi lampu rumah maupun pasar. Seharusnya, sinyal bantu bisa mencegah terjadinya kecelakaan. 

"Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga jaraknya sekitar dari tabrakan itu dengan penampakan 200 meter di muka sinyal bantu, itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut. Tapi karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat," ujarnya.

Selain itu, masalah komunikasi. Menurut dia, ada jeda komunikasi dari Pusat Pengendali Perjalanan Kereta Api (PK), di mana KRL melaporkan tabrakan ke stasiun dan PK Selatan, namun, KA Argo Bromo Anggrek berada di PK Timur.


Rapat kerja Komisi V DPR RI terkait kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Foto: Antara

KNKT mengungkapkan keruwetan komunikasi antara KRL  dan kereta jarak jauh. KRL yang berada di Bekasi dilakukan oleh PK Selatan. Sementara itu, proses penyampaian informasi cukup panjang untuk sampai ke PK Timur.

"Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya," kata Soerjanto.

KNKT merekomendasikan agar sistem komunikasi perlu diperbaiki. Hal ini dapat mengantisipasi kecelakaan serupa terulang kembali.

"Jadi salah satu hal untuk menanggulangi ini adalah sistem komunikasi juga harus diperbaiki," ujar dia. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Gabriella Thesa Widiari)