Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono. Foto: Tangkapan layar YouTube Metro TV.
Garap Proyek PSEL Kartamantul, Pertamina Perkuat Bisnis Energi Rendah Karbon
Husen Miftahudin • 16 July 2026 13:05
Jakarta: PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya mendukung pengelolaan sampah berbasis energi melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE). Melalui PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), perseroan akan berperan sebagai anchor off-taker dalam proyek pengolahan sampah di kawasan Yogyakarta, Sleman, dan Bantul (Kartamantul).
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengatakan keterlibatan Pertamina dalam proyek PSEL merupakan bagian dari dukungan perusahaan terhadap program pemerintah untuk mempercepat penanganan sampah sekaligus mendorong transisi energi.
"Pertamina melalui Pertamina New & Renewable Energy menjadi salah satu perusahaan yang terlibat dalam program PSEL ini dan bersaing bersama perusahaan-perusahaan swasta besar nasional maupun internasional," kata Agung Wicaksono dalam acara Waste to Energy Talks 2026 yang diselenggarakan Metro TV di Melati Glass House, Plataran Senayan, Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Menurut Agung, keterlibatan Pertamina menunjukkan perseroan memiliki daya saing dalam pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi yang disiapkan oleh Danantara.
"Ini menunjukkan Pertamina kompetitif dengan proses yang disiapkan oleh Danantara untuk mendukung kepemimpinan Menteri Lingkungan Hidup dalam mengatasi persoalan ekologi di berbagai kota," jelas Agung.
Proyek PSEL jadi bagian strategi bisnis rendah karbon
Agung menjelaskan proyek PSEL menjadi bagian dari dual growth strategy Pertamina. Melalui strategi tersebut, perusahaan tidak hanya mengembangkan bisnis energi berbasis minyak dan gas, tetapi juga memperluas portofolio bisnis rendah karbon yang mendukung keberlanjutan.
Selain itu, Pertamina menerapkan pendekatan dual track issues, yakni menghadirkan solusi atas persoalan lingkungan yang tetap memiliki nilai ekonomi.
"Kami menempatkan program PSEL sebagai bagian dari dual growth strategy. Selain menjalankan bisnis energi minyak dan gas, kami juga mengembangkan bisnis berbasis lingkungan dan rendah karbon," kata dia.
Dalam penugasan yang diberikan Danantara, Pertamina akan mengelola proyek PSEL di kawasan Kartamantul yang mencakup Yogyakarta, Sleman, dan Bantul.
Agung menyebut fasilitas tersebut akan mengolah lebih dari 1.000 ton sampah per hari menggunakan teknologi insinerator. Teknologi itu dipilih untuk mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan energi listrik.
"Dengan volume sampah lebih dari seribu ton per hari, kami akan menjadi anchor off-taker. Sampah akan diolah menggunakan teknologi insinerator, kemudian dikonversi menjadi listrik," papar Agung. Listrik yang dihasilkan selanjutnya akan menjadi bagian dari pasokan energi yang disalurkan PT PLN (Persero).

(Acara Waste to Energy Talks 2026 yang diselenggarakan Metro TV di Melati Glass House, Plataran Senayan, Jakarta)
Perkuat sinergi BUMN
Agung menilai proyek Waste to Energy tidak hanya berkontribusi dalam mengatasi persoalan sampah, tetapi juga memperkuat sinergi antarbadan usaha milik negara (BUMN) dalam mendukung pengembangan ekonomi hijau.
Menurut dia, kolaborasi antara Pertamina dan PLN di bawah koordinasi Danantara menjadi contoh sinergi yang menggabungkan penyelesaian persoalan lingkungan dengan penciptaan nilai ekonomi.
"Ini merupakan bentuk kontribusi Pertamina dalam menangani persoalan ekologi dengan solusi ekonomi, sekaligus memperkuat sinergi BUMN antara Pertamina dan PLN di bawah kepemimpinan Danantara," tutur Agung.