Serangan Drone Ukraina ke Rusia Tewaskan Tujuh Orang di Tambov

Perang Rusia-Ukraina telah meletus sejak Februari 2022. (Anadolu Agency)

Serangan Drone Ukraina ke Rusia Tewaskan Tujuh Orang di Tambov

Willy Haryono • 18 July 2026 13:19

Moskow: Serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina terhadap sebuah pusat logistik di wilayah Tambov, Rusia barat, menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 24 lainnya, menurut pejabat setempat pada Sabtu, 18 Juli 2026.

Gubernur Tambov, Evgeny Pervyshov, mengatakan seluruh korban tewas merupakan karyawan yang sedang menjalani giliran kerja malam di pusat logistik milik perusahaan Wildberries di Kota Kotovsk.

"Tujuh pekerja shift malam tewas ketika drone musuh menghantam pusat logistik Wildberries," kata Pervyshov, seperti dikutip dari TRT World.

Ia menambahkan, berdasarkan informasi sementara, sebanyak 24 orang lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut.

Perusahaan Wildberries dalam pernyataannya menyebut kompleks logistiknya di Kotovsk, Tambov, serta di Elektrostal, wilayah Moskow, sama-sama menjadi sasaran serangan drone.

Menurut perusahaan, kebakaran yang terjadi di fasilitas Tambov telah berhasil dipadamkan, sementara petugas pemadam kebakaran masih menangani kebakaran di kompleks Elektrostal.

Moskow Diserang Ratusan Drone

Di saat yang sama, Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan wilayah ibu kota kembali menjadi sasaran gelombang besar serangan drone Ukraina. Ia menyebut lebih dari 370 drone diluncurkan menuju wilayah Moskow dalam semalam.

Menurut Sobyanin, sebagian besar drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Rusia sebelum mencapai ibu kota. "Dari jumlah tersebut, 64 drone musuh dihancurkan saat mendekati Moskow," ujarnya melalui platform MAX.

Ukraina dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan serangan terhadap berbagai target di wilayah Rusia.

Kyiv menyatakan operasi tersebut merupakan balasan atas serangan yang terus dilakukan Rusia ke wilayah Ukraina selama lebih dari empat tahun konflik berlangsung.

Sementara itu, upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri perang dilaporkan mengalami kebuntuan dalam beberapa bulan terakhir.

Proses tersebut disebut melambat setelah Washington mengalihkan perhatian diplomatik dan militernya ke konflik yang meningkat dengan Iran.

Baca juga:  Ukraina Sebut Rusia Serang Tiga Kapal Dagang, Tiga Orang Tewas

(Willy Haryono)