ESDM: 4 Gunung Api di Sulawesi Utara Berstatus Waspada

Kementerian ESDM menetapkan status waspada (level II) Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, ANTARA/Karel A Polakitan

ESDM: 4 Gunung Api di Sulawesi Utara Berstatus Waspada

Lukman Diah Sari • 31 July 2026 13:01

Manado: Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi Maluku, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyebutkan empat gunung api di Sulawesi Utara menyandang status Waspada (Level II).

"Dari delapan gunung api yang ada di Sulawesi Utara, empat di antaranya berstatus waspada," kata Penyelidik Bumi Ahli Muda Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi Maluku Sandy Gumolili di Manado, Jumat, 31 Juli 2026, melansir Antara.

Keempat gunung api aktif yang berstatus waspada yaitu Gunung Awu (Kabupaten Kepulauan Sangihe), Gunung Karangetang (Kabupaten Kepulauan Sitaro), Gunung Lokon (Kota Tomohon), dan Gunung Soputan (Kabupaten Minahasa Tenggara).

"Gunung Awu belakangan diturunkan statusnya pada 8 Juli 2026 dari Siaga (Level III) menjadi Waspada," kata Sandy menambahkan.


Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulut. ANTARA/HO-ESDM

Selanjutnya, empat gunung api lainnya yang berstatus Normal (Level I) yaitu Gunung Mahawu (Kota Tomohon), Gunung Ruang (Kabupaten Kepulauan Sitaro), Gunung Tangkoko (Kota Bitung), dan Gunung Ambang (Kabupaten Bolaang Mongondow).

Semua gunung api yang ada di provinsi ujung utara Sulawesi, baik yang berstatus Waspada maupun Normal, memiliki radius bahaya masing-masing. Masyarakat dan wisatawan diharapkan mematuhi radius bahaya yang direkomendasikan. 

Dia mencontohkan, masyarakat di yang bermukim sekitar di Gunung Karangetang, Kabupaten Kepulauan Sitaro, diimbau agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya, yaitu radius 1,5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan), serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2,5 kilometer.

Selanjutnya, masyarakat diminta mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya.

(Lukman Diah Sari)