Disparekraf Lampung: Gunung Anak Krakatau Bukan Tempat Wisata

Gunung Anak Krakatau yang masih mengeluarkan asap dari puncak berdasarkan pengamatan petugas PVMBG Badan Geologi di Lampung Selatan, Lampung, Rabu petang, 8 Juli 2026. ANTARA/HO-Badan Geologi

Disparekraf Lampung: Gunung Anak Krakatau Bukan Tempat Wisata

Lukman Diah Sari • 17 July 2026 14:10

Bandarlampung: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung menyatakan bahwa Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu cagar alam yang dilindungi undang-undang, bukan destinasi wisata yang dapat dikunjungi wisatawan.

"Seperti yang kita tahu Gunung Anak Krakatau ini bukanlah tempat wisata, tetapi cagar alam yang dilindungi dan harus dijaga. Kawasan ini hanya diperuntukkan bagi kegiatan konservasi," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung Tony Ferdiansyah di Bandarlampung, Jumat, 17 Juli 2026, melansir Antara.

Tony mengatakan, kawasan Gunung Anak Krakatau memang tidak diperbolehkan untuk dikunjungi sebagai destinasi pariwisata. Menurutnya, wisatawan hanya diizinkan memantau atau mendekat hingga batas aman, yakni pada radius lima kilometer dari kawah.

"Oleh karena itu, wisatawan jangan masuk ke kawasan Gunung Anak Krakatau. Kami imbau paling jauh boleh mendekat itu hanya radius lima kilometer saja, jangan sampai mendekati. Kalau dulu masih boleh radius dua kilometer, tapi dengan kondisi saat ini radius lima kilometer menjadi titik aman," jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung Tony Ferdiansyah saat memberi keterangan terkait Festival Krakatau 2026. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Lebih lanjut Tony menjelaskan, dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang cukup aktif dan saat ini berada pada Level III (Siaga), wisatawan dilarang keras berada terlalu dekat dengan kawasan konservasi tersebut.

"Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Lampung untuk mengedukasi wisatawan atau masyarakat di sana agar tidak mendekat ke sana dalam bentuk apa pun, karena melihat aktivitas gunung yang meningkat," ucap Tony.

Menyusul kondisi Gunung Anak Krakatau tersebut, pihaknya kini tengah mempertimbangkan kembali agenda kegiatan tabur bunga di area pesisir maupun perairan sekitar saat pelaksanaan Festival Krakatau 2026.

"Rencana awal saat Festival Krakatau 2026 itu akan ada tabur bunga. Namun, melihat kondisi Gunung Anak Krakatau yang aktif lagi dan masuk level II, maka kami terus memantau kondisi ke depannya dan mempersiapkan mengganti konsep tabur bunga dengan yang lain," tambahnya.

(Lukman Diah Sari)