Dari Studio ke Ekonomi, Program Radio Ekraf Resmi Diluncurkan di Bandung

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat peluncuran Radio Ekraf di Bandung, Minggu, 8 Februari 2026.

Dari Studio ke Ekonomi, Program Radio Ekraf Resmi Diluncurkan di Bandung

Roni Kurniawan • 8 February 2026 15:41

Bandung: Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) meluncurkan program Radio Ekraf di Kota Bandung. Program ini bertujuan memperkuat peran radio sebagai media informasi, hiburan, sekaligus penggerak ekonomi kreatif di daerah.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyatakan penunjukan radio dalam program ini merupakan bagian dari roadshow nasional yang telah dimulai sejak tahun lalu di Jakarta.

"Tujuannya agar masyarakat bisa melihat bagaimana radio bekerja dan memahami bahwa radio masih relevan hingga sekarang," kata Irene di Cihampelas, Kota Bandung, Minggu, 8 Februari 2026.

Menurut Irene, anggapan radio sudah ditinggalkan tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan data, masih ada sekitar 25 juta orang di Indonesia yang mendengarkan radio.

"Radio bukan hanya hiburan, tapi juga bagian dari ketahanan bangsa. Kemerdekaan Indonesia dulu diumumkan lewat radio. Kalau suatu saat listrik dan internet tidak ada, radio tetap bisa diandalkan," ujar Irene.
 


Irene menambahkan, radio juga menjadi ruang lahirnya insan kreatif. Ia mencontohkan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang memulai kariernya sebagai penyiar radio.

Irene menjelaskan Bandung dipilih karena dikenal sebagai kota kreatif dengan sejarah panjang dunia penyiaran. "Bandung punya ekosistem radio yang kuat. Sejak awal, kami ingin kreativitas tidak hanya berkembang di Jakarta, tapi juga di daerah," sahut Irene.

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan radio telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bandung sejak tahun 1970-an. "Radio di Bandung melahirkan banyak talenta, bukan hanya penyiar, tapi juga di bidang manajemen, pemasaran, dan ekspresi kreatif lainnya," tutur Farhan.

Diakui Farhan, ke depan radio harus beradaptasi dengan platform digital. Namun, frekuensi siaran tetap harus dipertahankan sebagai bagian dari ketahanan nasional. Farhan juga menyoroti peran radio dalam situasi darurat, seperti saat kerusuhan di Bandung pada Agustus 2025 silam.

"Itu bukti radio masih sangat efektif sebagai media komunikasi massa," tegas Farhan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)