Arsip foto - Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Simeulue Asmanuddin (kanan) memperlihatkan sertifikat warisan tak benda Bahasa Devayan di Banda Aceh, Kamis, 16 Mei 2024. ANTARA/HO-Dok Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Simeulue
Tiga Bahasa di Pulau Simeulue Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Silvana Febiari • 3 September 2026 21:01
Banda Aceh: Kementerian Kebudayaan menetapkan tiga bahasa daerah di Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh, sebagai warisan budaya tak benda (WBTb). Tiga bahasa daerah tersebut yakni, bahasa Devayan, bahasa Sigulai, dan bahasa Simolol.
"Tiga bahasa ini merupakan bahasa asli penduduk Pulau Simeulue. Kini, bahasa tersebut resmi tercatat menjadi warisan budaya tak benda," kata Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simeulue Zulfatah, dilansir dari Antara, Kamis, 3 September 2026.
Baca Juga :
Selain tiga bahasa tersebut, Pemerintah Kabupaten Simeulue saat ini sedang memproses pengajuan satu bahasa asli Simeulue lainnya, yakni bahasa Lekon. Bahasa tersebut diusulkan untuk ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda.
"Ada satu bahasa lagi yang diajukan menjadi bahasa warisan budaya tak benda, yakni bahasa Lekon. Kami berharap bahasa Lekon ditetapkan sebagai bahasa warisan tak benda," ungkapnya.
Pemerintah kabupaten mengupayakan tiga bahasa daerah yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional masuk dalam kurikulum sekolah. Langkah ini dilakukan untuk melestarikan bahasa asli masyarakat Pulau Simeulue agar tetap digunakan hingga generasi mendatang.

Arsip foto - Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Simeulue Asmanuddin (kanan) memperlihatkan sertifikat warisan tak benda Bahasa Devayan di Banda Aceh, Kamis, 16 Mei 2024. ANTARA/HO-Dok Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Simeulue
Kabupaten Simeulue merupakan wilayah kepulauan terluar di Provinsi Aceh. Pulau Simeulue berada di Samudra Hindia yang jaraknya sekitar 180 mil laut dari pesisir barat Pulau Sumatra.
Kabupaten Simeulue merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat sejak tahun 1999. Kabupaten Simeulue memiliki 10 kecamatan dengan 138 gampong atau desa yang dihuni sekitar 96 ribuan jiwa.