Proses evakuasi warga Langkat terendam banjir. (Metro TV/Bayu Dian Aditama)
Penuh Haru, Warga Tanjungpura Terobos Banjir 2,5 Meter Demi Anak Istri
2 December 2025 08:37
Langkat: Kisah haru sekaligus menegangkan datang dari Riatno, 36, warga Dusun VIII Desa Pekubuan, Kecamatan Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Riatno nekat menerobos banjir besar demi bisa bertemu kembali dengan istri dan anaknya yang mengungsi di rumah mertuanya di Kota Binjai.
Banjir mulai menggenangi wilayah Tanjungpura sejak Rabu. Debit air terus meningkat hingga mencapai 2,5 meter pada Kamis, 27 November 2025, membuat Riatno dan warga lainnya terjebak banjir hingga Sabtu, 29 November 2025. Situasi semakin memburuk: listrik padam, komunikasi terputus, dan persediaan makanan serta air bersih semakin menipis.
Terdesak kondisi tersebut, Riatno memutuskan mengambil risiko besar untuk keluar dari wilayah banjir. Dengan menumpang sampan warga, ia berhasil mencapai titik terdekat di perbatasan Tanjungpura. Perjalanan itu sangat berbahaya, sebab seluruh wilayah sudah terendam dan arus air terus mengalir deras.

Proses evakuasi warga Langkat terendam banjir. (Metro TV/Bayu Dian Aditama)
Setelah mencapai daratan yang lebih tinggi, ia bersama belasan warga lainnya berjalan kaki hampir satu jam melewati arus banjir yang masih kuat. Mereka akhirnya tiba di Persimpangan Rutan Tanjungpura, titik aman yang bisa dijangkau keluarga dari Binjai.
“Ya terpaksalah, bang. Demi bisa bertemu sama anak dan istri yang lagi di tempat mertua di Binjai,” ujar Riatno, pada Senin sore, 1 Desember 2025, di Binjai.

Riatno, 36, warga Dusun VIII Desa Pekubuan, menembus banjir setinggi 2,5 meter untuk bertemu istri dan anak. (Metro TV/Bayu Dian Aditama)
Saat akhirnya bertemu, suasana haru tak terhindarkan. Maisarah menangis sambil memeluk Riatno, memastikan suaminya benar-benar selamat dari bencana yang merendam rumah mereka hingga tak tersisa.
“Semua harta benda, rumah, dan mobil kami di Tanjungpura habis terendam banjir. Tapi saya ikhlas. Yang penting bisa berkumpul kembali dengan keluarga,” kata Riatno dengan mata berkaca-kaca. Riatno juga menceritakan kondisi memilukan warga yang masih bertahan di rumah masing-masing. Minimnya bantuan membuat banyak pengungsi kekurangan makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya.
“Kondisinya menyedihkan. Listrik mati, komunikasi terputus, air bersih nggak ada, gas buat masak pun nggak ada,” tuturnya.

Proses evakuasi warga Langkat terendam banjir. (Metro TV/Bayu Dian Aditama)
Sementara itu, Andi mengaku perjalanan menuju titik pertemuan penuh dengan pemandangan memilukan. Banyak warga yang berjalan kaki menyelamatkan diri, membawa anggota keluarga yang sakit melewati banjir.
“Sepanjang jalan banyak warga menyelamatkan diri. Ada yang bawa orang sakit melewati banjir. Sedih lihatnya,” ungkapnya.
Banjir besar yang melanda Tanjungpura dan sejumlah wilayah lain di Kabupaten Langkat masih menyisakan duka mendalam. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Hingga kini, masyarakat masih menunggu bantuan dan penanganan lanjutan dari pemerintah dan pihak terkait. (Metro TV/Bayu Dian Aditama)