Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan potensi ancaman bahaya aktivitas Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulut untuk saat ini adalah kemungkinan terjadinya gas beracun yang sewaktu waktu dapat keluar dari kawah. ANTARA/Ka
Potensi Gas Beracun Ancam Warga Sekitar Gunung Lokon
Silvana Febiari • 17 February 2026 00:26
Manado: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut potensi ancaman bahaya aktivitas Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut). Salah satunya kemungkinan adanya gas beracun yang sewaktu-waktu keluar dari kawah.
"Dapat terjadinya erupsi freatik (erupsi yang diakibatkan kontak uap panas magma dengan air hidrotermal) secara tiba tiba," ujar Pelaksana tugas Badan Geologi, Lana Saria dalam laporan aktivitas Gunung Lokon periode 16-31 Agustus 2026, dilansir dari Antara, Senin, 16 Februari 2026.
Pada pengamatan instrumental, kegempaan selama periode tersebut terekam tujuh kali gempa embusan, 26 kali gempa vulkanik dangkal, lima kali gempa vulkanik dalam dan 106 kali gempa tektonik jauh.
Berdasarkan hasil pengamatan visual aktivitas Gunung Lokon, teramati hembusan asap berwarna putih tipis dengan tinggi maksimum sekitar 25 meter di atas kawah. Kegempaan Gunung Lokon didominasi gempa vulkanik dangkal (VB), sedangkan gempa vulkanik dalam (VA) jarang terekam.
Rekomendasi berdasarkan hasil analisa dan evaluasi secara menyeluruh hingga 31 Januari 2026, tingkat aktivitas Gunung Lokon pada Level II (Waspada). Rekomendasi disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini.

Gunung Lokon yang diambil dari permukiman penduduk Kelurahan Kinilow Satu, Kecamatan Tomohon Utara. ANTARA/Karel A Polakitan
Beberapa rekomendasi yang harus dipatuhi, yaitu masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan beraktivitas dan mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.
Apabila terjadi letusan dan hujan abu, masyarakat diimbau untuk tetap berada di dalam rumah. Apabila berada di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata). Masyarakat diharapkan mewaspadai potensi lahar pada sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon, terutama pada musim hujan.