Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia
Mengantre
Abdul Kohar, Media Indonesia • 12 May 2026 05:27
Mengantre itu butuh energi. Bahkan, menunggu untuk mendapatkan nomor antrean saja sudah butuh usaha. Malah, usaha keras. Apalagi, mengantre untuk berangkat haji. Butuh 'kesabaran revolusioner' untuk mencapainya. Tidak mengherankan sempat ada usul 'war tiket' (perang tiket) berangkat haji.
'War tiket' merupakan istilah berburu tiket untuk nonton konser, nonton sepak bola, nonton film, atau berebut kursi tiket kereta api Lebaran. Dalam konteks berangkat haji, istilah itu digunakan untuk menamai model 'berangkat haji berdasarkan kemampuan dana'.
Mekanismenya, kira-kira, setelah kuota haji tahun berjalan diumumkan dengan biaya sekian, lalu pendaftaran haji dibuka, siapa pun yang sudah siap dana bisa langsung daftar. Lalu, bila tiket sudah didapat, langsung diproses tanpa masuk daftar tunggu lagi.
Namun, itu masih wacana. Baru ide. Bahkan, belum bisa disebut embrio. Hanya, karena yang menyampaikan ialah Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf dan disampaikan di depan publik, orang pun heboh.
Mereka bertanya-tanya. Dengan kecemasan tingkat tinggi tentunya. Salah satunya kerabat saya. Ia sudah daftar dan mengantre delapan tahun lalu. Sudah separuh jalan. Bila sistem war tiket diterapkan, ia takut tak kunjung berangkat. Disundul terus. Sebagai ASN, masa tunggu ialah saat menabung. Lain soal kalau ia pelaku bisnis. Ia memilih mengantre dengan sabar.
Untunglah kehebohan war tiket haji berhenti. Menhaj Gus Irfan yang menyetopnya. Debat soal itu tidak produktif. Apalagi, kata Gus Irfan, kementeriannya tengah sibuk fokus mengurusi haji 2026 agar sukses.
Semua lega. Termasuk kerabat saya. Namun, saya lalu terusik untuk menulis tentang mengantre ini. Khususnya tentang kesabaran orang dalam mengantre, termasuk antre berangkat haji ke Tanah Suci.
Konon, nenek moyang kita bukan pelaut saja, melainkan juga pengantre. Bedanya, dulu mereka mengantre dengan sabar, sekarang banyak orang mulai mengantre dengan curiga. Ada yang kasak-kusuk, 'jangan-jangan antrean haji saya' hangus oleh sistem baru. Kepercayaan bisa bersalin kecurigaan, padahal belum ada yang pasti.
Antrean itu memang serasa makhluk aneh. Ia tampak tertib dari jauh, tetapi dari dekat sering mengandung niat-niat yang kurang lurus. Orang berdiri berderet bukan semata karena cinta keteraturan, melainkan juga karena takut kehabisan. Entah kehabisan tiket, sembako, atau hilangnya kesempatan.
Barangkali, dari rasa tidak percaya, muncullah 'perang mengantre' itu. Orang tidak percaya bahwa semua akan kebagian maka ia berdiri lebih dulu. Yang datang kemudian tidak percaya bahwa yang di depan akan tertib maka ia menyelip. Yang di belakang lagi tidak percaya bahwa sistem akan adil maka ia mencari 'jalan belakang', memanfaatkan 'ordal' (orang dalam, bukan siniar Obrolan Mendalam). Akhirnya, antrean bukan lagi soal urutan, melainkan soal strategi.

Calon jemaah haji. Foto: Dok. Media Center Haji 2026.
Di negeri yang katanya ramah ini, antrean sering menjadi ujian karakter. Ada yang lulus dengan berdiri diam. Ada yang setengah lulus dengan menggerutu pelan. Ada pula yang tidak lulus sama sekali dengan pura-pura tidak melihat barisan.
Menariknya, orang yang memotong antrean sering punya alasan yang terdengar ilmiah, seperti, “Saya cuma sebentar,” atau “Ini tadi sudah di sini.” Seolah-olah waktu dan tempat bisa dinegosiasikan seperti harga di pasar.
Padahal, antrean mengajarkan sesuatu yang sederhana, bahwa kita tidak selalu nomor satu, dan itu tidak apa-apa. Namun, pelajaran sederhana memang jarang diminati. Kita lebih suka pelajaran yang rumit, yang bisa diperdebatkan, yang memberikan ruang untuk merasa lebih pintar daripada orang lain, termasuk dalam hal berdiri di barisan.
Karena itu, jangan heran kalau suatu hari nanti, antrean tidak lagi lurus ke belakang, tetapi melingkar ke mana-mana, mengikuti arah kepentingan masing-masing.
Di situlah kita sadar, bahwa asal muasal antrean bukanlah garis, melainkan keinginan manusia untuk selalu berada di depan meskipun jalannya memutar.