Gen Z India Buat Gerakan Satir 'Partai Kecoak', Simak Asal-Usulnya

Ilustrasi: Instagram/@abhijeetdipke

Gen Z India Buat Gerakan Satir 'Partai Kecoak', Simak Asal-Usulnya

Riza Aslam Khaeron • 26 May 2026 15:16

Jakarta: Gerakan sosial dan politik yang diinisiasi anak muda di sejumlah negara mencuri perhatian publik. Sebut saja demonstrasi besar-besaran di Nepal yang berujung pada lengsernya Perdana Menteri (PM) KP Sharma Oli pada 2025, dan demo di Bangladesh yang berujung penggulingan PM Sheikh Hasina, hingga memaksanya melarikan diri ke India.

Dua tahun sebelum itu, yakni pada 2022, Sri Lanka telah lebih dulu mengalami badai politik yang hampir sama. Gerakan protes massal luar biasa yang dikenal sebagai aksi Aragalaya memaksa PM Mahinda Rajapaksa untuk meletakkan jabatannya demi meredam kemarahan rakyat.

Rangkaian aksi massa yang melanda berbagai negara di Asia dan Afrika selama beberapa tahun terakhir ini mulai dijuluki oleh para pengamat  internasional sebagai 'Unjuk Rasa Gen Z' sebuah fenomena protes dan kerusuhan sosial yang dipelopori oleh kelompok mahasiswa serta generasi muda sepanjang dekade ini akibat keresahan sosial-ekonomi yang mendalam.

Belakangan, gerakan dengan nuansa kemarahan yang sama mulai menjalar ke India. Dipelopori gerakan unik bernama Partai Kecoak Janta (Cockroach Janta Party/CJP).

Awalnya, gerakan ini merupakan proyek satir humor di ranah digital. Namun kini, jutaan pemuda India berbondong-bondong merapat dan menggunakannya sebagai wadah untuk menyalurkan rasa frustrasi mereka terhadap situasi sosial-politik.

Kendati eskalasinya belum sekuat gelombang revolusi di tiga negara tetangganya, gerakan satir ini perlahan tapi pasti mulai merambah ke dunia nyata. Beberapa sukarelawan muda bahkan mulai berani muncul dengan aksi protes jalanan mengenakan kostum kecoak yang mencolok.

Lantas, bagaimana sebenarnya asal-usul dari gerakan unik ini dan apa saja tuntutan yang ingin mereka suarakan? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
 

Asal-Usul Partai


Gambar AI simbol CJP. (CJP)

CJP pertama kali muncul di jagat maya setelah pernyataan dari Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, memicu gelombang kecaman dari generasi muda India di tengah kemarahan akibat tingginya angka pengangguran, lonjakan biaya hidup, serta rentetan kasus kebocoran soal ujian negara baru-baru ini yang mengacaukan proses rekrutmen kerja. 

Dalam sidang pada Jumat, 15 Mei 2026, Kant melontarkan kritik tajam terhadap pihak-pihak yang ia sebut sebagai 'parasit' yang menyerang institusi negara. Ia bahkan menyamakan sebagian pemuda pengangguran dan aktivis dengan kecoak.

"Ada anak-anak muda yang bertingkah seperti kecoak; mereka tidak mendapatkan pekerjaan atau tidak memiliki tempat di dunia profesional," ujar Kant. Ia menambahkan sebagian dari mereka beralih menjadi aktivis media sosial, jurnalis, atau penggiat kampanye kepentingan publik, lalu mulai menyerang siapa saja.

Kant kemudian mengklarifikasi bahwa pernyataannya dipelintir dan mengeklaim sama sekali tidak berniat menghina generasi muda India.

"Yang saya kritik secara khusus adalah mereka yang masuk ke profesi hukum (seperti advokat) dengan bantuan ijazah palsu atau abal-abal. Orang-orang seperti ini juga menyusup ke media, media sosial, dan profesi mulia lainnya, sehingga mereka bertindak seperti parasit," jelasnya.

Namun, pernyataan awal Kant kadung memunculkan kemarahan publik. Setelah peristiwa tersebut, Abhijeet Dipke (30 tahun), seorang mantan anggota partai oposisi Aam Aadmi Party (AAP) yang saat ini bermukim di Amerika Serikat (AS) membuat akun parodi CJP di Instagram.

Akun tersebut mengadopsi kecoak sebagai simbol politiknya dan mulai gencar mengunggah meme, slogan kampanye tiruan, serta komentar satir yang membidik pemerintahan PM Narendra Modi.

Gerakan tersebut meraih kesuksesan luar biasa. Hanya dalam waktu 24 jam, akun tersebut berhasil meraup 3,7 juta pengikut dan menembus angka 15 juta pengikut di Instagram dalam kurun waktu kurang dari seminggu.

Sebagai perbandingan, Bharatiya Janata Party (BJP)—partai politik terbesar di dunia yang kini berkuasa di India—saat ini memiliki sekitar sembilan juta pengikut di Instagram.

Di platform X (sebelumnya Twitter), gerakan ini juga sangat populer hingga mampu menjaring lebih dari 200.000 pengikut dalam hitungan hari, mempopulerkan slogan tren seperti #MainBhiCockroach (Saya Juga Kecoak), serta menarik perhatian begitu besar hingga akun tersebut akhirnya sempat ditangguhkan pembatasannya di wilayah India.
 

Misi dan Manifesto CJP


Abhijeet Dipke. (navbharattimes.indiatimes.com)

Berbeda dengan tiga negara sebelumnya, gerakan ini tidak menuntut lengsernya PM Modi dan partainya dari puncak kekuasaan. Di situs resmi mereka, CJP menegaskan misinya untuk:

"Membangun wadah bagi anak-anak muda yang terus-menerus dicap malas, terlalu sering daring (chronically online), dan—yang terbaru—disebut sebagai kecoak. Cukup itu saja. Itulah misi kami."

Mereka juga telah merilis manifesto resmi yang berisi lima poin utama:
  1. Reformasi Pascapensiun Hakim: Jika CJP berkuasa, tidak ada Ketua Mahkamah Agung yang boleh dianugerahi kursi di Rajya Sabha (Dewan Perwakilan Negara Bagian) sebagai hadiah pascapensiun.
  2. Perlindungan Hak Pilih: Jika ada hak suara sah warga negara yang dihapus, baik di wilayah yang dikuasai CJP maupun oposisi, Ketua Komisi Pemilihan Umum (CEC) harus ditangkap di bawah Undang-Undang Pencegahan Aktivitas Melawan Hukum (UAPA), karena merampas hak suara rakyat setara dengan tindakan terorisme.
  3. Keterwakilan Perempuan: Perempuan harus mendapatkan kuota keterwakilan sebesar 50%, bukan 33%, tanpa menambah jumlah kursi di Parlemen. Selain itu, 50% dari seluruh posisi menteri di kabinet wajib dialokasikan untuk perempuan.
  4. Independensi Media: Semua perusahaan media yang dimiliki oleh konglomerat Ambani dan Adani harus dicabut izin usahanya demi memberi ruang bagi media yang benar-benar independen. Rekening bank para pembawa acara media partisan (Godi media) juga harus diselidiki.
  5. Sanksi Keras bagi Kutu Loncat Politik: Setiap anggota parlemen daerah (MLA) maupun pusat (MP) yang membelot dari satu partai ke partai lain akan dilarang mengikuti pemilu—serta memegang jabatan publik apa pun—selama jangka waktu 20 tahun.
CJP juga telah membuat sebuah petisi yang menuntut mundurnya Menteri Pendidikan India, Shri Dharmendra Pradhan. Ketika berita ini disusun, petisi tersebut telah berhasil mengumpulkan 584.083 tanda tangan.

"Sistem pendidikan kita telah rusak. Mulai dari kehilangan tragis para siswa yang mengakhiri hidupnya karena depresi, hingga jutaan masa depan generasi muda yang hancur akibat kebocoran soal ujian selama satu dekade terakhir—kegagalan ini tidak boleh diabaikan begitu saja. Harus ada konsekuensi nyata," tulis CJP di laman petisi mereka.

Arah Kedepannya


Anak muda India memakai simbol kecoa sebagai simbol protes. (Instagram/@kayakuchitales)

Dalam wawancaranya dengan France24 pada 25 Mei 2026, Dipke menuturkan akan menghubungi 'anggota-anggota' partai yang telah terdaftar untuk menentukan arah ke depannya.

"Kami akan menjangkau seluruh 10 juta anggota yang terdaftar dan 22 juta orang yang mengikuti kami di Instagram. Kami akan meminta saran dari mereka. Masukan serta ide-ide mereka akan menentukan bagaimana kami membawa gerakan ini ke depannya," ucap Dipke.

Namun, gerakan ini hingga kini masih berupa aksi protes viral di ranah digital. Di dunia nyata, kaus bertema kecoak mulai dicetak dan kostum serangga tersebut kerap dikenakan oleh generasi muda (Gen Z) India, didukung dengan coretan grafiti di tembok-tembok kota sebagai simbol gerakan.

Sebelumnya, Dipke sempat mengisyaratkan bahwa gerakan ini berpotensi besar untuk bergerak lebih jauh ke aksi nyata di lapangan.

(Arga Sumantri)