Filosofi 'Heneng-Hening' dalam Renungan Peringatan Waisak

Ribuan warga memadati Bundaran HI mengikuti festival Illumination of Jakarta: Glow of Peace. Foto: Metro TV/Iqbal.

Filosofi 'Heneng-Hening' dalam Renungan Peringatan Waisak

Muhammad Iqbal Sidiq • 29 May 2026 21:49

Jakarta: Prosesi renungan dilakukan dalam peringatan Waisak 2026 bertajuk Illumination of Jakarta: Glow of Peace di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Sesi tersebut mengajak ribuan warga merefleksikan kembali makna kedamaian.  

"Henang artinya menang. Menang tidak ada pihak yang dikalahkan. Itulah buah dari hening, henung, heneng, henang," ujar Bhante Dhammasubho Mahathera, Jakarta, Jumat, 29 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa heneng berarti meneng atau diam secara fisik, yang menuntun jiwa menjadi bening. Jiwa yang bening ini akan melahirkan henung, kondisi batin yang paham, hingga akhirnya henang atau kemenangan sejati.

Menang yang sejati bukanlah menjatuhkan sesama atau memenangkan ego pribadi, melainkan berhasil mengendalikan diri sendiri melalui keheningan batin.

"Menang tetapi tidak ada pihak yang dikalahkan. Dan itulah yang dilakukan oleh Siddhartha pada zamannya," tambah Bhante Dhammasubho.

Bhante Dhammasubho Mahathera saat memimpin prosesi renungan dalam Festival Illumination of Jakarta: Glow of Peace. Foto: Metro TV/Iqbal.

Didampingi oleh para tokoh lintas agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta, renungan disampaikan secara inklusif. Kehadiran para pemuka agama yang berdiri bersama di atas panggung memperkuat pesan kedamaian sejati.  

Melalui pesan yang menyentuh ini, peringatan Waisak kali ini tidak sekadar menjadi festival biasa. Panggung Glow of Peace malam ini sukses menjadi ruang refleksi seluruh warga Jakarta.

(Anggi Tondi)