400 Hektare Karhutla di Kaltim Didominasi Lahan Mineral

Ilustrasi: Asap akibat karhutla di Kelurahan Sepan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim pada 19 Agustus 2026 (Antara/ HO- BPBD PPU

400 Hektare Karhutla di Kaltim Didominasi Lahan Mineral

Silvana Febiari • 10 September 2026 22:56

Banjarbaru: Sekitar 400 hektare lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut karhutla tersebut didominasi lahan mineral.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan api sempat padam, tetapi kembali muncul di sejumlah lokasi, termasuk Bukit Soeharto dan jalur Balikpapan-Samarinda. Penanganan terus dilakukan untuk mencegah api meluas.

“Lahannya gambut dan mineral, tetapi yang terbakar didominasi lahan mineral. Sekitar 400 hektare ya. Padam, kemudian hidup lagi, padam, hidup lagi. Dalam proses penanganan,” kata Suharyanto, dilansir dari Antara, Kamis, 10 September 2026. 


Karakter lahan yang terbakar di Kaltim merupakan gabungan lahan gambut dan mineral, tetapi didominasi lahan mineral. Sebab, perkebunan termasuk sawit belum berkembang secara masif di wilayah tersebut.

“Di sana belum masif ya perkebunan, seperti sawit. Jadi sebagian lahan di sana ada gambut, tapi lebih banyak yang mineral,” ujarnya.

Suharyanto mengatakan luas karhutla di Kaltim tidak sebesar kondisi di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Namun, penanganan tetap dilakukan secara berkelanjutan karena api yang sempat padam dapat kembali muncul di lokasi tertentu.


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto memberikan keterangan dalam kunjungan kerja di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis, 10 September 2026. ANTARA/Tumpal Andani Aritonang


Penanganan karhutla dilakukan melalui pengerahan satuan tugas darat dan dukungan pemadaman dari udara. Helikopter pengebom air dikerahkan untuk menangani titik api di sejumlah lokasi.

Selain pemadaman, BNPB juga menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kelembapan lahan dan menekan risiko kebakaran berulang.

“Penanganan karhutla di Kaltim terus dilakukan meskipun luas areal terbakar masih lebih kecil dibandingkan sejumlah provinsi lain di Kalimantan, dengan pengerahan kekuatan disesuaikan kondisi lapangan untuk mencegah api kembali meluas,” ujar Suharyanto.

(Silvana Febiari)