Mainan Sederhana Pelipur Lara Bocah Korban Gempa NTT

Anak Kelurahan Tolawak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo yang menjadi korban gempa di Pulau Flores mengintip mainan yang dibawa relawan. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.

Mainan Sederhana Pelipur Lara Bocah Korban Gempa NTT

Anggi Tondi Martaon • 28 August 2026 09:13

Nagekeo: Sore itu, tim relawan menyusuri jalan menuju posko pengungsian di Kelurahan Tolawak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengantar bantuan warga terdampak gempa. Laju mobil berhenti tak jauh dari segerombolan bocah yang bermain dekat sebuah tenda di halaman rumah.

Kendaraan relawan menarik minat anak-anak tersebut, menghentinkan aktivitas mereka. Gerombolan bocah menghampiri dengan ekspresi bertanya-tanya di wajah mereka. Siapa gerangan di dalam mobil yang berhenti.

Ekspresi bertanya-tanya kemudian buyar usai sejumlah relawan turun mengenakan rompi dan topi. Seperti menyambut kedatangan orang tercinta dari perantauan, bocah-bocah itu langsung menghampiri relawan dan bersalaman sembari mengiringi menuju tenda. 

Kehebohan tersebut menarik perhatian bocah lain yang berada di lingkungan sekitar. Mereka ikut nimbrung di bawah tenda. Bukan berebut bantuan, bocah mengerubungi sembari berebut bicara menjawab pertanyaan ringan relawan.

"Lagi apa kalian tadi," tanya relawan bernama Zul.

"Bermain saja bapak," jawab bocah-bocah sambil nyengir memperlihatkan gigih putih mereka.

Setelah basa-basi singkat tersebut, Zul kemudian menyampaikan sesuatu yang membuat para bocah tambah bersemangat. Sesuatu itu sederhana: mainan yang dibungkus di dalam dua tas kain.

Mainan itu adalah mobil-mobilan berikuran kecil, miniatur hewan, hingga bola plastik. Meski sederhana, hadiah tersebut dapat menghilangkan ketakutan mereka atas gempa dan menggerus bosan selama di tenda pengungsian.

"Hore," seru anak-anak tersebut sambil bertepuk tangan yang membuat suasana semakin meriah. 

Namun, Zul tak mau mainan diberikan secara cuma-cuma. Relawan tersebut memberi tantangan agar bocah bisa mendapat mainan, yaitu harus menjawab pertanyaan yang diberikan.

Bocah-bocah tak patah semangat, mereka justru menunjukan ekspresi serius menghadapi tantangan tersebut. Bahkan, susunan duduk yang sebelumnya rapi, mulai tidak beraturan. Mereka semakin merapat agar bisa mendengar pertanyaan dengan jelas. 

Zul kemudian meminta anak-anak pengungsi mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan. Pertama, yakni siapa pemenang Piala Dunia 2026.

"Spanyol," teriak para bocah secara berbarengan. Hal itu justru membuat kaget Zul. Kaget, karena haeus memilih siapa yang berhak mendapatkan hadiah dari pertanyaan tersebut.

"Yang jawab cukup satu saja. Kalian angkat tangan lalu dipilih nanti siapa yang menjawab," terang Zul kembali menjelaskan aturan main tersebut. 

Pertanyaan kedua kembali disampaikan, namun kejadian serupa terulang. Entah kurang memahami atau karena terlalu bersemangat ingin mendapat mainan, mereka menjawab pertanyaan secara serentak. 

Kondisi itu menimbulkan gelak tawa orang tua dari anak-anak itu. Lalu, seorang pria paruh baya mencoba menjelaskan kembali aturan main kepada paea bocah tersebut. 

"Kalian cukup angkat tangan lalu diam dulu. Nanti bapak relawan yang memilih siapa yang menjawab," ujar pria paruh baya yang disambut anggukan kepala anak-anak tersebut, tanda memahami aturan permainan.

Setelah memastikan anak-anak sudah paham, permainan tak langsung dimulai. Zul meminta relawan lain memberikan anak-anak tersebut susu yang sudah mereka bawa dari posko. 

Anak korban bencana Flores di Kelurahan Tolawak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, mencoba menjebloskan bola ke gawang untuk mendapat mainan. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.

Setelah jeda sejenak sembari menikmati susu, permainan kembali dimulai. Mereka satu per satu dites pengetahuan umumnya. Pertanyaan yang diberikan cukup ringan, mulai dari sepak bola, jenis bunga, nama hewan, hingga kemampuan matematika.

Tidak semua berhasil menjawab pertanyaan. Tapi, mereka tetap bisa mengikuti lomba cerdas cermat ringan tersebut hingga menjawab dengan benar. Bagi yang mampu menjawab, mereka bebas memilih mainan yang diinginkan. 

Setelah beberapa pertanyaan Zul mencoba mengganti materi terkait lagu nasional, salah satunya Garuda Pancasila. Kemudian, Zul menantang para bocah tersebut hapalan membacakan Pancasila.

Sejumlah anak menunjuk tangan. Meski sedikit malu, mereka berhasil menyelesaikan tantangan tersebut.

Lalu perlombaan diganti, bocah diminta menendang bola menembus gawang buatan yang terbuat dari kardus. Tapi, perlombaan kali ini tidak boleh lagi diikuti oleh mereka yang sudah mendapat hadiah.

Satu per satu mencoba, mulai dari anak laki-laki maupun perempuan. Ada yang berhasil dan ada yang gagal. Bagi yang berhasil, boleh memilih mainan yang sudah diletakkan di sudut tenda yang tak jauh di samping gawang.

Mereka diminta menunjukkan kemampuan juggling bola. Jumlah pantulan bola disesuaikan dengan ukuran tubuh mereka. Bagi anak yang berbadan besar, mereka diminta men-juggling bola empat kali. Bagi yang masih kecil, cukup dua kali.

Permainan itu berlangsung hingga hadiah ludes. Memang tidak semua kebagian mainan. Namun, setidaknya kegiatan tersebut menjadi trauma healing pascapengalaman buruk gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT mereka pada Sabtu, 15 Agustus 2026.  

Tim relawan pun kembali melanjutkan perjalanan menyerahkan bantuan. Setelah pamit kepada mama-mama dan bapak tua di sana, relawan menuju mobil yang terparkir di jalan. Anak-anak mengiringi sembari menyampaikan selamat jalan.

"Terimakasih bapak," seru mereka secara bergantian sambil melambaikan tangan.

(Siti Yona Hukmana)