Penerima Svarna Bhumi Award 2026 berfoto bersama di Grand Studio Metro TV, Jakarta (Foto:Metrotvnews.com/Widjokongko)
Pupuk Indonesia Anugerahkan Penghargaan bagi 7 Pahlawan Pangan Svarna Bhumi Award 2026
Muhammad Adyatma Damardjati • 31 August 2026 12:43
Jakarta: PT Pupuk Indonesia (Persero) kembali mengukuhkan komitmennya terhadap ketahanan pangan nasional dengan menganugerahkan Svarna Bhumi Award 2026 kepada tujuh sosok inspiratif. Puncak apresiasi ini menjadi ruang selebrasi bagi para inovator dan praktisi yang telah mendedikasikan hidupnya untuk memajukan sektor agrikultur di berbagai pelosok Tanah Air.
Malam penganugerahan yang berlangsung khidmat di Grand Studio Metro TV, Jakarta, terbagi ke dalam tiga kategori utama. Kategori tersebut mencakup lima penerima Pahlawan Pangan, satu penerima Satya Pangan Loka, dan satu penerima penganugerahan Special Achievement.
Penyerahan trofi secara simbolis dilakukan di atas panggung oleh Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, bersama Staf Khusus Kementerian Pertanian, Prof. Sam Herodian, yang hadir mewakili Menteri Pertanian. Sebagai wujud dukungan nyata terhadap keberlanjutan program para pemenang, PT Pupuk Indonesia menyalurkan dana pembinaan senilai Rp50 juta kepada masing-masing penerima kategori Pahlawan Pangan, dan apresiasi senilai Rp65 juta bagi peraih Special Achievement.
5 Pahlawan Pangan
Lima sosok dianugerahi penghargaan Pahlawan Pangan dalam Svarna Bhumi Award 2026. Mereka yakni Ella Rizki Farihatul Maftuhah, Asri Saraswati dan Andhika Mahardika, Fikrang, A.A. Gede Agung Wedhatama, serta Prof. Dr. Ir. Ali Zul Mashar, M.Si.
Ella Rizki Farihatul Maftuhah menjadi salah satu penerima atas kiprahnya dalam mengembangkan potensi kelapa di Desa Trenten, Magelang. Melalui Kelompok Wanita Tani Nira Lestari, Ella mengolah komoditas kelapa menjadi produk bernilai tambah sekaligus memberdayakan para petani dan masyarakat desa.
Baca Juga :
Svarna Bhumi Awards 2026
Asri Saraswati dan Andhika Mahardika turut menerima penghargaan atas upaya mereka mengembangkan Agradaya dengan memberdayakan petani rempah. Keduanya juga memperkenalkan teknologi Rumah Surya untuk membantu proses pengeringan hasil panen, sehingga produk rempah yang dikembangkan mampu menembus pasar internasional.
A.A. Gede Agung Wedhatama dianugerahi Pahlawan Pangan berkat kiprahnya dalam mendorong regenerasi petani melalui Komunitas Petani Muda Keren (PMK) di Bali. Ia memperkenalkan penerapan smart farming sekaligus membantu membuka akses pasar bagi hasil pertanian yang dikembangkan para petani.
Fikrang, pemuda asal Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, menjadi penerima berikutnya atas keberhasilannya merintis usaha Tambak Milenial. Dari satu kolam kecil, usahanya berkembang menjadi belasan kolam dengan kapasitas panen mencapai dua ton. Fikrang juga mendirikan yayasan pendidikan bagi anak-anak pesisir.
Momen emosional kemudian mewarnai malam penganugerahan ketika Fikrang menyampaikan pidato kemenangannya. Ia tak kuasa menahan haru saat mendedikasikan penghargaan tersebut untuk perjuangan kedua orang tuanya yang pernah hidup di bawah garis kemiskinan.
"Penghargaan ini saya dedikasikan kepada kedua orang tua saya. Mak, Pak, anak yang kau tidurkan di gerobak malam itu, berdiri di sini malam ini," ucap Fikrang di atas panggung saat menerima piala penganugerahan.
Fikrang menegaskan penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan titik tolak baru untuk terus memberikan dampak sosial.

Fikrang menegaskan panggung apresiasi ini bukanlah tujuan akhir, melainkan titik tolak baru bagi usahanya untuk terus memberikan dampak sosial. (Foto: Metrotvnews.com/Widjokongko)
"Bagi saya, penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, bukan hanya untuk saya, tapi untuk kita semua yang sedang memperjuangkan pangan Indonesia," tambahnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Ali Zul Mashar, M.Si. menerima penghargaan atas dedikasinya di bidang riset pertanian. Selama puluhan tahun, ia mengembangkan inovasi pupuk hayati berbasis 18 mikroba untuk membantu rehabilitasi lahan gambut dan lahan kritis bekas tambang. Ia juga mengembangkan varietas kedelai dan padi untuk mendukung produktivitas pertanian.
Satya Pangan Loka
Penghargaan Satya Pangan Loka diberikan kepada Romo Robertus Pelita, inovator pertanian organik asal Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Romo Robertus dikenal atas pengembangan metode pertanian organik berbiaya rendah yang diterapkan untuk membantu masyarakat dan petani. Penghargaan tersebut menjadi salah satu momen haru dalam malam penganugerahan karena ia tidak dapat hadir langsung di Jakarta dan memilih mendampingi masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Pesan Romo Robertus kemudian disampaikan melalui tayangan video di hadapan para tamu undangan.

Romo Robertus Pelita menyampaikan pesan melalui tayangan video setelah menerima penghargaan Satya Pangan Loka Svarna Bhumi Award 2026 (Foto: Metrotvnews.com/Widjokongko)
"Saya tidak dapat menerima penghargaan ini secara langsung di Jakarta karena Flores saat ini sedang dilanda duka gempa bumi, dan saya lebih memilih berada bersama saudara-saudari saya yang saat ini sedang dilanda duka," tutur Romo Robertus melalui tayangan video di hadapan para tamu undangan.
Merespons kondisi tersebut, pihak PT Pupuk Indonesia bersama penyelenggara acara mengambil langkah tanggap dengan turut menyalurkan bantuan kemanusiaan secara simbolis bagi masyarakat NTT yang terdampak bencana di sela-sela malam penganugerahan tersebut.
Special Achievement
Penghargaan Special Achievement diberikan kepada Romo Charles Patrick Edward Burrows atau Romo Carolus.

Romo Charles Patrick Edward Burrows atau Romo Carolus (Foto: Metrotvnews.com/Widjokongko)
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi khusus kepada Romo Carolus atas pengabdiannya dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan sektor pangan. Pria asal Irlandia tersebut telah mengabdikan diri di Cilacap, Jawa Tengah, sejak 1973.
Melalui Svarna Bhumi Award 2026, Pupuk Indonesia menegaskan bahwa perjuangan menjaga ketahanan pangan membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak.
Dari desa, lahan pertanian, tambak, hingga ruang riset, para penerima Svarna Bhumi Award 2026 membuktikan bahwa upaya menjaga pangan Indonesia memiliki banyak wajah. Penghargaan ini menjadi penanda atas kontribusi mereka sekaligus pengingat bahwa ketahanan pangan merupakan kerja bersama yang membutuhkan inovasi, keberlanjutan, dan keberpihakan kepada masyarakat.