Jakarta: Di tengah berbagai tantangan sektor pangan, ada sosok-sosok yang memilih terus bergerak dari daerah masing-masing. Mulai dari memberdayakan petani, mengembangkan hasil pertanian, hingga menciptakan inovasi untuk lahan kritis, perjuangan mereka mendapat apresiasi melalui Svarna Bhumi Award 2026.
Svarna Bhumi Award 2026 diselenggarakan PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama BenihBaik.com dan Kick Andy Metro TV di Grand Studio Metro TV, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Para penerima penghargaan berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang dan perjuangan yang berbeda dalam memperkuat ketahanan pangan.
Andy F. Noya mengatakan penghargaan tersebut diberikan untuk memberikan ruang kepada orang-orang yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan. Menurutnya, kisah mereka penting diangkat karena dapat menjadi contoh, memberikan motivasi, sekaligus menumbuhkan optimisme bagi masyarakat.
“Kenapa kita panggungkan mereka? Karena ini adalah contoh-contoh. Contoh-contoh yang bisa memotivasi. Contoh-contoh yang membawa optimisme bagi Indonesia,” kata Andy dalam acara Svarna Bhumi Award 2026, Jumat, 21 Agustus 2026.
Selain Svarna Bhumi Award, penghargaan tahun ini juga mencakup Satya Pangan Loka dan Special Achievement Svarna Bhumi Award 2026. Berikut daftar penerima penghargaan beserta kisah perjuangan mereka:
Penerima Svarna Bhumi Award 2026
1. Ella Rizki Farihatul Maftuhah
Berawal dari keluarga petani nira kelapa di Desa Trenten, Magelang, Jawa Tengah, Ella Rizki Farihatul Maftuhah melihat potensi pertanian di daerahnya belum berkembang secara maksimal. Kondisi tersebut mendorong Ella membentuk Kelompok Wanita Tani Nira Lestari pada 2015 untuk mengembangkan hasil pertanian sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kelompok tersebut, Ella mengolah kelapa yang sebelumnya hanya menjadi komoditas mentah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Produk yang dihasilkan antara lain gula kelapa atau gula semut, virgin coconut oil, madu nabati dari gula kelapa, serta berbagai produk olahan lainnya.
Kini, lebih dari 500 petani telah dibina Ella melalui jaringan Nira Lestari yang tersebar di Kulon Progo, Purworejo, Magelang, Adora, Kutai Timur, hingga Malaysia. Produk olahan kelapa yang dikembangkan juga telah menembus pasar luar negeri.
Langkah tersebut bermula ketika Ella melihat banyak perempuan di desanya harus merantau ke luar negeri untuk membantu perekonomian keluarga. Ia kemudian memilih menciptakan peluang dari potensi yang tersedia di tanah kelahirannya sendiri.
“Ketidakmungkinan itu, kita bisa yang tadinya terpuruk, tapi kita challenge menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Kita bisa mengekspor hasil bumi kita dan kita bisa dari hasil ekspor itu kita bisa membiayai anak petani, mengadakan sembako murah, kemudian kesehatan gratis dan juga kemandirian untuk lingkungan,” kata Ella.
“Asalkan ada harapan, ada masa depan. Terima kasih juga untuk Svarna Bhumi Award 2026. Semoga ini menjadi energi bagi kami untuk terus memberdayakan, untuk terus menciptakan lapangan penghidupan dan juga terus menjaga ketahanan pangan Indonesia,” tambahnya.
2. Asri dan Andhika
Berbeda dengan penerima lainnya, Asri dan Andhika memilih meninggalkan kehidupan di kota untuk mengembangkan potensi pertanian di kawasan perbukitan Menoreh. Keduanya kemudian merangkul petani rempah yang selama ini menghadapi persoalan rendahnya harga hasil pertanian melalui komunitas Agradaya.
Di Kebumen, Jawa Tengah, sekitar 40 petani perempuan telah diberdayakan melalui kegiatan Agradaya. Sementara itu, komunitas tersebut juga bekerja sama dengan petani di BUMDes Inegena, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Rempah-rempah Nusantara dari para petani kemudian dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu menembus pasar dunia. Sejak 2021, produk Agradaya telah diekspor ke Jepang, Australia, Prancis, Arab Saudi, hingga Belgia dengan jumlah mulai dari ratusan kilogram hingga puluhan ton.
Asri dan Andhika membuktikan desa dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan potensi pertanian. Keduanya juga mendorong hasil rempah Nusantara menjadi produk Indonesia yang mampu bersaing di pasar global.
“Selain untuk Pupuk Indonesia, Metro TV, Kick Andy dan untuk suami saya yang malam ini menjaga tiga anak saya. Semoga hilirisasi di Indonesia bukan hanya untuk tambang dan nikel, tetapi untuk hasil hutan dan hasil pertanian Indonesia,” ujar Asri.
3. Fikrang
Perjalanan Fikrang menuju kesuksesan tidak lepas dari kehidupan sederhana yang pernah dijalaninya di Sulawesi Selatan. Ia pernah tinggal di gerobak dan bekerja sebagai penggembala sapi untuk membantu menghidupi keluarganya.
Sejak kelas 2 SMP, Fikrang mulai menekuni budi daya udang di tambak tradisional milik ayahnya. Di tengah kesibukan bekerja, ia tetap mengejar cita-cita untuk melanjutkan pendidikan hingga akhirnya berhasil menjadi mahasiswa Universitas Hasanuddin.
Setelah menyelesaikan kuliah, Fikrang memilih mengembangkan usaha tambak udang yang diberi nama Tambak Milenial. Berawal dari satu kolam berukuran 25 meter, usahanya kini berkembang menjadi 14 kolam.
Dalam satu kali panen, Fikrang dapat menghasilkan sekitar dua ton udang dari satu kolam. Selain mengembangkan usaha, ia juga memiliki perhatian terhadap pendidikan dengan mendirikan yayasan bagi anak-anak binaan yang ingin melanjutkan kuliah tetapi terkendala biaya.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para mentor saya, dari Bank Syariah Indonesia, komunitas Wirausaha Makassar, dan terutama teman-teman dari Tambak Milenial, luruh, teman-teman yang sampai saat ini terus membantu saya, support saya, mempercayai semua mimpi-mimpi saya,” kata Fikrang.
“Penghargaan ini bukan akhir, tapi sebuah motivasi buat kami untuk terus memberi dampak lebih banyak lagi, memberi kemaslahatan, memberi semua yang kami bisa untuk negeri ini, untuk memajukan Indonesia,” tuturnya.
Fikrang menilai penghargaan tersebut bukan hanya menjadi apresiasi untuk dirinya, tetapi juga bagi orang-orang yang terus berjuang di sektor pangan. Ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, bukan hanya untuk saya, tapi untuk kita semua yang sedang memperjuangkan pangan Indonesia,” pungkasnya.
4. A.A. Gede Agung Wedhatama
Sementara itu, A.A. Gede Agung Wedhatama memiliki misi membuat petani naik kelas sekaligus mengubah pandangan generasi muda terhadap profesi tersebut. Keprihatinannya terhadap anggapan bahwa pertanian merupakan pilihan yang ketinggalan mendorongnya membentuk Komunitas Petani Muda Keren atau PMK pada 2013.
Sebagai agro-sociopreneur, Agung memanfaatkan teknologi pertanian modern berbasis internet untuk mengembangkan buah tropis dan hortikultura di Kabupaten Badung, Bali. PMK kemudian mengembangkan sistem smart farming yang memungkinkan petani memantau lahan, penyiraman, hingga pH tanah melalui telepon genggam.
Agung juga melihat persoalan petani tidak hanya berada di sektor hulu, tetapi juga pada kepastian pasar. Karena itu, pada 2017, melalui koperasi PMK, ia mulai membangun jaringan pemasaran lokal hingga membuka akses ekspor ke Eropa dan Timur Tengah.
Saat ini, PMK telah membina 27 kelompok tani dengan jumlah anggota mencapai ribuan petani. Lahan yang dikelola mencapai kurang lebih 100 hektare di berbagai wilayah Bali.
Para petani juga didorong meningkatkan penghasilan agar dapat naik kelas menjadi agropreneur. Sejumlah petani bahkan mampu menyekolahkan anak hingga jenjang S2 dan memiliki kendaraan untuk mendukung usaha.
Agung mengatakan PMK bukan sekadar komunitas petani, tetapi menjadi jembatan yang mempertemukan petani dengan pasar. Menurutnya, petani perlu memiliki kemandirian, kesejahteraan, dan melihat pertanian sebagai profesi yang menjanjikan.
“Namun tantangan terbesar petani kita adalah petani tidak pernah punya kepastian pasar. Begitu juga dengan pasar, pasar tidak pernah punya kepastian kontinuitas, kualitas dan kuantitas,” kata Agung.
“Oleh sebab itulah kami di Petani Muda Keren berusaha untuk membentuk mata rantai nilai pertanian dari hulu sampai hilir,” jelasnya.
Agung mencontohkan harga salak di Bali yang sebelumnya pernah turun hingga Rp1.000-Rp2.000 per kilogram dan bahkan tidak jarang dibuang. Setelah PMK menemukan pasar ekspor ke Tiongkok sejak 2023, harga salak disebut menjadi lebih stabil dan tinggi di tingkat petani.
“Ternyata, apa yang kurang berharga di negara kita sangat dibutuhkan di negara luar. Kita memiliki buah-buah tropis, memiliki kopi, kakao, vanila, empon-empon yang luar biasa,” terangnya.
Melihat kondisi tersebut, Agung mengajak generasi muda untuk bangga menjadi petani dan mengembangkan potensi pertanian Indonesia. Ia menilai petani merupakan bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus masa depan perekonomian Indonesia.
“Petani adalah emas bangsa. Kemajuan pertanian Indonesia tidak dibutuhkan oleh luas tanah di negeri ini, tapi bagaimana anak-anak muda kita mau mengolah, mencintai, dan terjun menjadi petani-petani yang hebat untuk Indonesia tercinta,” ujarnya.
Agung juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Petani Muda Keren yang tersebar di Papua, NTT, NTB, Bali, Kalimantan Timur, Mentawai, Tapanuli, dan berbagai daerah lainnya. Ia turut mengucapkan terima kasih kepada keluarganya, termasuk anak-anaknya Arjuna, Bima, dan Andra serta istrinya yang telah memberikan dukungan.
“Untuk Indonesia, tetaplah kuat, kita bersama, kita bangun pertanian kita untuk semakin maju, mandiri, dan berorientasi pasar internasional. Petani adalah emas bangsa, bangga jadi petani, jadi bangga,” tutup Agung.
5. Prof. Dr. Ir. Ali Zubmashar, M.Si
Di bidang penelitian, Prof. Dr. Insinyur Ali Zubmashar menjadi salah satu sosok yang mengabdikan ilmu pengetahuannya untuk membantu petani Indonesia. Penelitiannya menghasilkan 18 jenis mikroba yang dikenal sebagai mikroba Google untuk memulihkan berbagai lahan kritis.
Hampir tiga dekade berlalu, penerapan temuannya telah menjangkau kelompok tani di berbagai wilayah Indonesia dan sejumlah negara. Ali bahkan pernah mendapat tawaran bernilai fantastis untuk melepaskan hak paten temuannya, tetapi memilih mempertahankannya untuk petani Indonesia.
Perjalanan penelitian Ali bermula sekitar 28 tahun lalu ketika ia mendampingi petani transmigran di lahan gambut Kalimantan Tengah. Ia melihat kondisi tanah yang sangat asam dan mengandung pirit, tetapi para petani tetap berjuang mempertahankan kehidupan.
Dari pengalaman tersebut, Ali mengembangkan penelitian hingga menghasilkan teknologi mikroba yang dapat membantu mengubah tanah ekstrem seperti gambut, tanah pirit, dan tanah bekas tambang menjadi lahan yang dapat digunakan untuk pertanian pangan.
Ali juga melakukan penelitian varietas kedelai selama 25 tahun. Hasilnya, empat varietas Kedelai Tropis Migo, Garuda Non-GMO telah dilepas dengan produktivitas di atas empat ton per hektare, bahkan mencapai 5,3 ton per hektare dalam uji coba hamparan 30 hektare di Lampung berdasarkan data yang disampaikan dalam acara tersebut.
Selain kedelai, Ali juga sedang mengembangkan 12 varietas padi Trisakti. Varietas tersebut memiliki masa panen sekitar 2-2,5 bulan, lebih singkat dibandingkan rata-rata masa panen padi yang disebut berada pada kisaran 3,5-4 bulan.
“Sungguh pada malam ini saya sangat bersyukur atas pemberian anugerah pahlawan pangan ini. Anugerah ini saya dedikasikan dan saya persembahkan kepada seluruh para petani Indonesia yang telah memberikan inspirasi pada saya untuk meneliti dan berjuang sampai tahun ini,” kata Ali.
Ali mengungkapkan perjuangan melakukan penelitian tidak selalu berjalan mudah. Ia bahkan pernah kehabisan biaya penelitian hingga harus menjual cincin kawin, rumah, dan tanah warisan di kampung untuk melanjutkan penelitian.
“Namun saya yakin bahwa pengorbanan itu akan berarti jika hasilnya nanti adalah kembali kepada petani dan bisa membuat petani tersenyum dan bahagia. Itu cita-cita saya,” ungkapnya.
Menurut Ali, perjuangan menjaga pangan merupakan bentuk perjuangan baru untuk mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia. Ia berharap hasil penelitian yang dikembangkan dapat membantu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus menjadikan Indonesia mampu berkontribusi terhadap pangan dunia.
Ali juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertanian, keluarga, serta mitra yang selama ini memberikan dukungan terhadap penelitian dan penerapan hasil temuannya. Ia berharap inovasi tersebut dapat membantu mempercepat swasembada kedelai dan mendukung program pemerintah.
6. Romo Robertus Pelita
Romo Robertus Pelita dikenal sebagai sosok yang meyakini pembangunan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga harus menjaga keberlanjutan alam sebagai sumber kehidupan. Saat dipercaya menjadi Ketua Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Ruteng, Nusa Tenggara Timur, ia menemukan metode pertanian organik berbiaya sangat rendah.
Metode tersebut dikembangkan sebagai solusi terhadap tradisi pembakaran lahan yang masih dilakukan masyarakat. Pertanian organik yang dikembangkan juga diterapkan pada berbagai komoditas, seperti tanaman pangan, cengkeh, kopi, dan saca inci.
Kelompok tani dari Paroki Waning telah merasakan manfaat metode tersebut. Mereka bahkan berkembang menjadi agen perubahan yang turut memperkenalkan praktik pertanian organik kepada masyarakat.
Namun, Romo Robertus Pelita tidak dapat hadir dalam acara penghargaan karena turut terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Ia juga sedang mendampingi masyarakat yang terdampak bencana di wilayah tersebut.
7. Romo Charles Patrick Edward Burroughs
Penghargaan Special Achievement Svarna Bhumi Award 2026 diberikan kepada Romo Charles Patrick Edward Burroughs atau yang lebih dikenal sebagai Romo Carolus. Sosok berusia 83 tahun itu telah lebih dari 50 tahun mengabdikan hidupnya untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan dan memperkuat ketahanan pangan.
Misionaris asal Irlandia tersebut datang ke Cilacap, Jawa Tengah, pada 1973. Saat itu, ia menemukan masyarakat Desa Sawangan di kawasan Kampung Laut hidup dalam kekurangan pangan dan minim infrastruktur.
Romo Carolus kemudian memilih memberdayakan masyarakat, bukan sekadar memberikan bantuan. Ia mengembangkan kawasan tersebut dengan memanfaatkan endapan lumpur menjadi lahan pertanian dan mencetak sawah.
Upaya tersebut membuat lebih dari 1.000 hektare sawah dapat dikembangkan dan membantu ribuan keluarga keluar dari kemiskinan yang sebelumnya menghimpit masyarakat Kampung Laut. Pengembangan lahan juga terus dilakukan hingga luasan yang disebut mencapai sekitar 4.500 hektare.
Dalam perjuangannya, Romo Carolus juga menghadapi persoalan kebutuhan pangan masyarakat. Ia menceritakan upayanya mencari bantuan pangan dari luar negeri serta pengembangan lahan yang dapat digunakan masyarakat untuk bertani.
“Terima kasih sekali, bantu pikir makanan supaya semua bisa makan lebih dan bangun pagi dan nyanyi di sini,” ujar Romo Carolus.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas pengabdian panjang Romo Carolus dalam membantu masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan lahan untuk pertanian. Perjuangannya menunjukkan penguatan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan potensi lingkungan secara berkelanjutan.
(Angel Rinella)