Lonjakan Pesanan Jadi Tantangan saat Bisnis Scale Up

Ilustrasi. Foto: dok Blibli.

Lonjakan Pesanan Jadi Tantangan saat Bisnis Scale Up

Ade Hapsari Lestarini • 28 August 2026 14:41

Jakarta: Perkembangan bisnis menjadi peluang bagi brand untuk memperluas pasar. Namun, pertumbuhan skala usaha juga menghadirkan tantangan operasional yang semakin kompleks, mulai dari lonjakan pesanan dan jumlah Stock-Keeping Unit (SKU), akurasi inventori, hingga peningkatan permintaan saat peak season.

Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memastikan kapasitas operasional mampu mengikuti pertumbuhan bisnis. Di sisi lain, membangun kapasitas secara mandiri membutuhkan tambahan modal, infrastruktur, sistem, serta sumber daya manusia yang tidak sedikit.

Kebutuhan tersebut mendorong semakin pentingnya solusi operasional yang dapat menyesuaikan kapasitas dengan perkembangan bisnis. Salah satunya melalui layanan operasional terintegrasi yang mencakup pengelolaan e-commerce, fulfillment, hingga distribusi.

FAS, sebagai entitas anak Blibli, melihat kebutuhan tersebut sebagai peluang untuk membantu brand mengelola operasional sekaligus mendukung ekspansi bisnis melalui pendekatan berbasis data.

Director of FAS Alvin Hadibowo mengatakan pertumbuhan bisnis dapat berlangsung dengan cepat sehingga kapasitas operasional perlu memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan perubahan permintaan.

"Pertumbuhan bisnis itu dinamikanya sangat cepat. Dalam kurun waktu singkat, brand bisa mendadak kebanjiran SKU, lonjakan order, atau lonjakan transaksi saat peak season. FAS hadir agar kapasitas operasional brand bisa ikut menyesuaikan kebutuhan tersebut secara fleksibel, tanpa mereka harus terus-menerus membangun gudang baru atau menambah tim sendiri," ujar Alvin dalam keterangan tertulis, Jumat, 28 Agustus 2026.
 

Kapasitas operasional mengikuti pertumbuhan bisnis


Salah satu tantangan yang muncul ketika bisnis berkembang adalah pengelolaan inventori dan pesanan. Volume transaksi yang meningkat secara bersamaan dari berbagai kanal penjualan membutuhkan sistem yang mampu menjaga ketersediaan stok sekaligus mempercepat pemrosesan pesanan.

Melalui layanan fulfillment, pengelolaan inventori, penyimpanan, pengemasan, hingga pemrosesan pesanan dapat dilakukan secara terpusat. Teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) digunakan untuk membantu menjaga akurasi stok dan pesanan ketika volume transaksi meningkat.


Ilustrasi gudang logistik. Foto: dok MI.
 

Kapasitas yang fleksibel juga memungkinkan operasional menyesuaikan perubahan volume transaksi. Saat permintaan meningkat, kapasitas pemrosesan dapat disesuaikan tanpa harus langsung menambah gudang atau merekrut tenaga kerja permanen dalam jumlah besar.

Layanan fulfillment tersebut terhubung dengan pengelolaan e-commerce multikanal serta distribusi ke pasar offline. Integrasi tersebut memungkinkan pengelolaan kanal penjualan, stok, pengiriman, hingga distribusi dilakukan dalam satu ekosistem operasional.
 

Efisiensi jadi faktor penting saat bisnis berkembang


Kebutuhan efisiensi menjadi semakin penting ketika brand menghadapi pertumbuhan pesanan dalam waktu singkat. Kapasitas operasional yang tidak mampu mengikuti peningkatan permintaan berpotensi memengaruhi kecepatan pemrosesan pesanan hingga pengalaman pelanggan.

FAS mencatat sejumlah hasil dari dukungan operasional kepada mitranya. Di sektor beauty, layanan tersebut disebut membantu salah satu brand meningkatkan volume pesanan hingga 5,8 kali lipat dalam lima bulan.

Sementara di sektor fast-moving consumer goods (FMCG), solusi operasional tersebut disebut mampu memangkas waktu pemrosesan pesanan hingga 70 persen dan menekan pembatalan transaksi hingga 35 persen.

Selain sektor beauty dan FMCG, layanan operasional tersebut juga mencakup kategori gadget, elektronik rumah tangga, dan fashion. Menurut Alvin, kesiapan operasional menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan brand ketika menghadapi peningkatan permintaan.

"Melalui dukungan operasional yang adaptif, fokus kami adalah mendampingi brand dalam mengubah setiap lonjakan tren menjadi pertumbuhan bisnis jangka panjang," kata Alvin.

(Ade Hapsari Lestarini)