Pulau Kharg di Iran Diserang, Jaringan Listrik Dilaporkan Terputus

Bangunan di Iran alami kerusakan akibat serangan AS-Israel. Foto: Anadolu

Pulau Kharg di Iran Diserang, Jaringan Listrik Dilaporkan Terputus

Fajar Nugraha • 8 April 2026 03:25

Teheran: Kesenjangan yang mencolok antara realitas dan retorika muncul pada Selasa 7 April ketika pasukan Amerika Serikat melanjutkan serangan sistematis mereka terhadap target militer di Iran.

Ini terjadi bahkan ketika panglima tertinggi mereka, Presiden Donald Trump meningkatkan serangkaian ancaman yang ditujukan kepada Iran ke tingkat apokaliptik.

Amerika Serikat melancarkan serangkaian lebih dari 90 serangan di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, pada Selasa pagi.

Seorang pejabat militer AS menggambarkan serangan Kharg sebagai "serangan ulang" — menyerang target yang telah diserang sebelumnya untuk memastikan kerusakan yang lebih besar. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat belum menyerang infrastruktur Iran di pulau itu, yang terletak di Teluk Persia di lepas pantai selatan negara itu.

Baca Juga :

Trump Ancam Musnahkan Seluruh Peradaban Iran

Namun Presiden Trump menghabiskan harinya menyampaikan pesan  akhir dunia.

"Seluruh peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali," kata Trump dalam sebuah unggahan media sosial, seperti dikutip dari The New York Times, Rabu 8 April 2026.

“Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi,” ujar Trump.

Sementara media AS dan Iran menyebutkan, pemadaman listrik di Pulau Kharg, Iran, di Teluk Persia menyusul pengeboman AS terhadap 90 target.

Media Iran melaporkan, "jembatan kereta api di Aminabad antara Zanjan dan Mianeh terkena serangan gabungan AS-Israel, dengan kerusakan pada jalur kereta api".

Kesenjangan antara ancaman Trump dan realitas di lapangan seringkali lebar. Pada Selasa, kesenjangan itu sangat besar. Beberapa pejabat militer tampak kesulitan untuk menyelaraskan kampanye militer yang mereka katakan sedang mereka lakukan -,yaitu untuk melemahkan kemampuan Iran meluncurkan rudal balistik dan drone,- dengan sifat ancaman atasan mereka yang bernuansa kiamat.

Sementara para anggota parlemen Demokrat mengkritik keras unggahan media sosial Trump. Senator Jack Reed dari Rhode Island, anggota Demokrat terkemuka di Komite Angkatan Bersenjata Senat, mengatakan pesan Trump "melampaui apa yang seharusnya dikatakan atau dilakukan oleh presiden mana pun."

"Mengancam untuk melenyapkan sebuah peradaban sebanding dengan genosida," kata Reed dalam sebuah pernyataan.

"Sayangnya, dia telah menempatkan perwira militer profesional kita dalam situasi yang sangat sulit. Mereka tidak dapat melaksanakan perintah ilegal,” ujar Reed.

Trump telah menetapkan batas waktu pukul 8.00 malam waktu Timur bagi Iran untuk mengakhiri blokade efektifnya terhadap Selat Hormuz, dengan mengatakan pada Senin bahwa jika tidak, setiap jembatan di negara itu akan "hancur" dan setiap pembangkit listrik akan "gulung tikar."

Komando Pusat AS mengatakan pada Maret bahwa "serangan presisi skala besar" di Pulau Kharg menghancurkan "fasilitas penyimpanan ranjau laut, bunker penyimpanan rudal, dan beberapa situs militer lainnya." Pernyataan tersebut, yang diunggah di media sosial, juga mengatakan bahwa meskipun lebih dari 90 target militer Iran terkena serangan, infrastruktur minyak pulau itu tetap terjaga.

Namun hal itu tidak menghentikan Trump, yang berada di bawah tekanan untuk menemukan jalan keluar dari perang, untuk menggunakan ancaman serangan lebih lanjut guna menekan para negosiator Iran. Dalam unggahannya, Trump tampaknya memuji para pemimpin Iran, bahkan ketika ia mengancam pemusnahan mereka.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)