BMKG Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Isi 240 Waduk Hadapi El Nino

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani usai rapat terbatas, di Istana Merdeka. Foto: BPMI Setpres.

BMKG Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Isi 240 Waduk Hadapi El Nino

Kautsar Widya Prabowo • 29 July 2026 00:40

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaksimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi dampak El Nino yang diperkirakan semakin aktif selama musim kemarau. Salah satu fokusnya adalah memastikan ketersediaan air di sekitar 240 waduk.

"Jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada dua hal. Yaitu yang pertama, antisipasi terkait dengan kekeringan, dan yang kedua terkait dengan kebakaran hutan dan lahan," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani usai rapat terbatas, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.

BMKG akan menggandeng  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan pihak swasta untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca. Langkah tersebut dilakukan untuk mengisi waduk-waduk yang debit airnya mulai berkurang.

"Pengisian waduk-waduk yang ada di Indonesia, kita punya 240 waduk. Beberapa, memang tidak semua, itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih," ujar Faisal.

Selain menjaga ketersediaan air, BMKG juga memprioritaskan Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah rawan karhutla. Enam provinsi menjadi fokus utama, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

"Itu juga dilakukan secara berkala Operasi Modifikasi Cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana agar dia tidak mudah terbakar," ucap Faisal.


Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas mengenai kesiapan pemerintah hadapi kemarau dan El Nino bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 28 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr.

Faisal menambahkan, Operasi Modifikasi Cuaca juga dilakukan secara situasional di Kepulauan Riau dan sejumlah wilayah di Aceh, menyesuaikan perkembangan cuaca dan potensi bencana di masing-masing daerah. Langkah tersebut diharapkan mampu meminimalkan dampak El Nino terhadap ketahanan air, energi, pertanian, serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.

(Gabriella Thesa Widiari)