PSEL Bali Resmi Dibangun, Jadi Tonggak Transformasi Pengelolaan Sampah di Indonesia

Peresmian pembangunan fasilitas PSEL di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Bali. Foto: dok Danantara.

PSEL Bali Resmi Dibangun, Jadi Tonggak Transformasi Pengelolaan Sampah di Indonesia

Husen Miftahudin • 8 July 2026 14:57

Bali: Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) meresmikan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Bali.

Proyek ini menjadi pembangunan PSEL pertama yang dikembangkan Danantara Indonesia sekaligus menandai dimulainya transformasi pengelolaan sampah nasional yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Indonesia menghasilkan lebih dari 140 ribu ton sampah per hari. Kehadiran PSEL diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, perubahan iklim, dan produktivitas ekonomi.

Bagi Bali, pengelolaan sampah berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga ekosistem, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta mendukung keberlanjutan sektor pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian daerah.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan pembangunan PSEL merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah nasional.

"Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, masalah sampah adalah tantangan kita bersama yang harus diselesaikan secepat mungkin, sehingga tidak menjadi beban bagi generasi mendatang," ujar Rosan di Denpasar, Bali, Rabu, 8 Juli 2026.

"PSEL hadir untuk mengatasi dampak sampah terhadap lingkungan hidup, kesehatan, dan keselamatan dengan menggunakan teknologi yang sudah terbukti. Pelaksanaan PSEL oleh Danantara Indonesia tidak hanya dilakukan secara cepat, tetapi juga dengan penuh kehati-hatian dan standar tata kelola tertinggi," jelas dia menambahkan.
 
Baca juga: Contek Tiongkok hingga Jepang, Rosan: PSEL Tidak Bau, Bahkan Berdiri di Permukiman Elite

Gunakan teknologi berstandar lingkungan Eropa


PSEL Bali dirancang menggunakan teknologi moving grate incinerator, yang banyak diterapkan pada fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di berbagai negara. Teknologi tersebut dipilih karena memiliki keandalan operasional yang telah teruji serta dinilai sesuai dengan karakteristik sampah perkotaan di Indonesia.

Fasilitas ini juga mengacu pada standar lingkungan European Industrial Emissions Directive (EU IED). Emisi hasil proses pembakaran akan melalui Air Pollution Control System (APCS) berlapis sebelum dilepaskan ke udara.

Selain menghasilkan energi, proyek ini diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 80 persen per ton sampah dibandingkan metode pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir (TPA). Pembangunan dan operasional PSEL Bali juga diperkirakan menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau.

Dalam rangkaian peresmian dilakukan pula penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA) antara pengembang dan PT PLN (Persero). Perjanjian tersebut menjadi dasar komersial penyerapan listrik yang dihasilkan PSEL Bali ke jaringan PLN sekaligus memberikan kepastian keberlanjutan operasional proyek dalam jangka panjang.

Danantara menyatakan percepatan pembangunan PSEL dilakukan setelah terbitnya Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik.

Dalam prosesnya, PT Danantara Investment Management dan PT Daya Energi Bersih Nusantara telah menyelesaikan seleksi mitra teknologi, membentuk Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) untuk tiga lokasi tahap pertama, memulai proses Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan pemerintah daerah, menjalankan proses perizinan, hingga melakukan pematangan lahan. Ketiga proyek tahap pertama tersebut juga telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).


(CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani. Foto: dok Danantara)
 

Deregulasi kebut penyelesaian persoalan sampah


Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam merealisasikan pembangunan PSEL Bali. "Saya menyampaikan terima kasih kepada Danantara Indonesia, pemerintah daerah, PLN, dan seluruh pihak yang bekerja bersama mewujudkan dimulainya pembangunan PSEL Bali," ucap dia.

"Program ini dapat berjalan karena hambatan regulasi yang selama bertahun-tahun memperlambat penyelesaian persoalan sampah mulai kita sederhanakan melalui deregulasi. Dengan aturan yang lebih jelas, kerja sama yang kuat, dan tata kelola yang baik, saya yakin pengelolaan sampah dapat kita percepat untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan," tambah Zulkifli.

Menurut Danantara, pembangunan PSEL Bali merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, PT PLN (Persero), serta Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP).

Diketahui, PSEL Bali tidak hanya dirancang sebagai fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga mengadopsi pendekatan arsitektur yang selaras dengan budaya lokal.

Desain kawasan mengusung filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep tersebut diwujudkan melalui menara yang terinspirasi dari Menara Meru, penggunaan motif tenun dan ukiran khas Bali pada fasad bangunan, serta pemanfaatan material lokal.

Fasilitas ini juga akan dilengkapi Visitor Center dan jalur edukasi terpandu yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum.

(Husen Miftahudin)